Berita

Dampak Prosignal di Suspend, Bantuan Kompos Buruan Sae di RW 03 Kelurahan Pakemitan Terhambat

Oleh editor 18 Agustus 2026 4 menit baca

BANDUNG INSPIRA – Program buruan sae sukses dikembangkan warga RW 03 Kelurahan Pakemitan, Kecamatan Cinambo lewat swasembada warga dengan semangat dari warga untuk warga. Bahkan, Buruan Sae RW 03 berhasil masuk juara tingkat Kecamatan. 

Bukan tanpa hambatan, dengan memanfaatkan lahan kosong milik warga, Buruan

Sae yang berada di lahan seluas 1050 m² tersebut disulap menjadi lahan sayuran yang hijau dan subur. 

Keberadaan Buruan Sae di RW 03 Kelurahan Pakemitan dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Rustamaji menyebut program tersebut turut mendukung pemenuhan gizi warga dan membantu menekan kasus stunting.

Tak hanya swasembada warga, suksesnya Buruan Sae RW 03 tersebut juga dibantu oleh pihak Prosignal Karya Lestari lewat bantuan kompos yang sudah mencapai 300 ton. Bantuan kompos diberikan lewat kerjasama pengolahan sampah organik. 

“Sampah organik dari warga kami berikan ke Prosignal

untuk dikelola menjadi kompos yang akhirnya diberikan kepada Buruan Sae RW 03,” papar Rustamaji, Ketua RW 03 yang juga Ketua Forum RW di kelurahan Pakemitan, Senin (18/8/2026). 

Sayangnya, kini sampah organik di Kelurahan Pakemitan menumpuk dan berdampak pada kebutuhan kompos bagi Buruan Sae warga. Diketahui, pengelolaan sampah organik  disana mengalami kendala setelah kerja sama dengan Prosignal Karya Lestari dihentikan sementara.

“Penghentian kerja sama tersebut membuat pengelolaan sampah organik tersendat. Apalagi, saya juga menerima permintaan pupuk dari sejumlah RW yang selama ini memanfaatkan kompos hasil pengolahan sampah,” katanya. 

‎Pihaknya sudah mengajukan bantuan ke Dinas Lingkungan Hidup, namun belum ada solusi.

“Di sini kami hanya punya cangkul dan bak. Terpaksa membuat lubang kompos sementara di dalam drum, itu satu-satunya cara,” tutur Rustamaji. 

Rustamaji menjelaskan, saat ini sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik menumpuk sejak kerja sama tersebut dihentikan. Padahal, menurutnya, keberadaan kompos sangat dibutuhkan masyarakat.

‎‎“Selama ini Prosignal sangat membantu. Komposnya sangat dibutuhkan masyarakat. Pengelolaannya murni dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tidak diperjualbelikan,” bebernya. 

‎‎Ia berharap Prosignal Karya Lestari dapat kembali beroperasi. Selain itu, ia meminta Dinas Lingkungan Hidup turun langsung ke lapangan untuk melihat persoalan yang dihadapi warga dan memberikan solusi.

‎Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah mengatakan, program hilirisasi pengolahan sampah organik yang disampaikan pada akhir tahun lalu telah dijalankan di Kelurahan Pakemitan, khususnya RW 03.

‎“Alhamdulillah, program hilirisasi yang kami sampaikan akhir tahun lalu telah dijalankan di Kelurahan Pakemitan, khususnya RW 03. Kompos hasil olahan sampah organik bermanfaat langsung bagi warga. Saya sangat salut dengan semangat swadaya warga RW 03 Pakemitan,” kata Aldi.

‎Aldi menjelaskan, kegiatan pengolahan sampah oleh Prosignal dihentikan sementara oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup per 1 Juli 2026 berdasarkan surat tertanggal 29 Juni 2026. Penghentian tersebut berkaitan dengan adanya penumpukan sampah anorganik atau residu.

‎Diakuinya, kondisi tersebut terjadi karena sampah yang masuk tidak seluruhnya sesuai dengan jenis sampah yang diperbolehkan dalam kontrak kerja sama.

‎“Dalam kontrak dengan UPT Pengelolaan Sampah, kami dilarang menerima sampah yang tidak dapat diolah. Residu itu ternyata mayoritas berasal dari sapuan jalan,” ujarnya.

‎Lebih jauh, ‎Ia menilai pengawasan terhadap kelayakan sampah yang masuk perlu diperkuat, terlebih kendaraan pengangkut sampah merupakan milik Dinas Lingkungan Hidup.

‎“Seharusnya petugas pengawas dari Dinas/UPT yang mengawasi kelayakan sampah yang masuk, karena kendaraan pengangkut pun milik Dinas,” katanya.

‎‎Aldi menyebut penghentian operasional tersebut turut berdampak pada pengolahan sampah organik dan penyaluran kompos kepada masyarakat. Di sisi lain, penumpukan sampah juga disebut menghambat akses pasar.

‎“Kami ingin segera kembali beroperasi sesuai kontrak, fokus mengolah sampah organik murni seperti sisa dapur dan pasar. Dengan begitu tidak akan ada penumpukan, dan manfaat kompos bisa dirasakan luas masyarakat,” katanya.

Aldi juga menerangkan, total penumpukan sampah di lokasi sempat mencapai sekitar 1.500 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 750 hingga 900 ton bahan organik telah berhasil diolah menjadi kompos.

“Sekitar 100 ton residu masih menunggu kuota pengangkutan. Sisa bahan organik terus kami ayak dan salurkan secara terbatas meski belum maksimal,” tandasnya. (Tri Widiyantie / Berita Inspira)

Pemkot Dalami Kasus Pohon Dikuliti dan Segera Siapkan Tim Khusus untuk Penyelidikan

BERITA INSPIRA- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah menyelidiki kasus sejumlah pohon yang dikuliti atau dikelupas bagian batangnya di…

editor 18 Agu 2026

DLH Bandung Lakukan Perawatan Khusus 11 Pohon Dikuliti di Jalan Pahlawan

BANDUNG INSPIRA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung melakukan perawatan intensif terhadap 11 pohon di Jalan Pahlawan…

editor 18 Agu 2026

Pohon Yang Dikuliti di Jalan Pahlawan Berpotensi Tumbang

BANDUNG INSPIRA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatat ada 11 pohon di Jalan Pahlawan yang mengalami…

editor 18 Agu 2026