BANDUNG INSPIRA – Mi instan menjadi makanan populer dan kerap jadi ‘penyelamat’ ketika lapar melanda, terutama mereka yang hidup merantau.
Salah satu yang menjadi favorit adalah mi instan, yang mana makanan ini dianggap murah, enak, dan mengenyangkan.
Mi instan juga telah mengantongi izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman untuk dikonsumsi.
Namun ternyata, mi instan termasuk kategori ultra processed food (UPF) yang tidak disarankan dikonsumsi berlebihan, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan serat, protein, dan nutrisi lain yang lengkap.
Seorang Ahli Gizi UM Surabaya Tri Kurniawati menyebut, mie instan belum dapat dianggap sebagai makanan penuh (wholesome food) karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh.
Mie yang terbuat dari terigu mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, tetapi kandungan protein, vitamin, dan mineralnya hanya sedikit.
Dilansir Healthline, kandungan nutrisi pada mi instan sedikit berbeda tergantung jenis atau rasanya. Namun, sebagai gambaran umumnya, kandungannya dapat meliputi
– Kalori: 188
– Karbohidrat: 27 gram
– Jumlah lemak: 7 gram
– Lemak jenuh: 3 gram
– Protein: 4 gram
– Serat: 0,9 gram
– Natrium: 861 mg
– Tiamina: 43 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG)
– Folat: 12 persen dari AKG
– Mangan: 11 persen dari AKG
– Besi: 10 persen dari AKG
– Niasin: 9 persen dari AKG
– Riboflavin: 7 persen dari AKG
“Pemenuhan kebutuhan gizi mie instan dapat diperoleh jika ada penambahan sayuran dan sumber protein,”ujar Tri.
Dampak terlalu banyak makan mi instan
Mi instan juga dapat membahayakan kesehatan, hal ini dikarenakan dalam sekali penyajian mie instan umumnya mengandung lemak dan natrium yang tinggi, namun rendah serat, vitamin dan mineral.
Pola konsumsi mie instan mempunyai pengaruh positif terhadap obesitas abdominal dan hiperkoles-terolemia.
“Konsumsi mie instan lebih dari 2 bungkus dalam seminggu berhubungan dengan peningkatan sindrom metabolik yang tinggi pada wanita,”tegasnya lagi.
Mi instan memamng terbuat dari tepung terigu yang diperkaya dengan bentuk sintetis dari nutrisi tertentu seperti zat besi dan vitamin B yang membuat mi lebih bergizi.
Namun, mi instan kekurangan banyak nutrisi penting, termasuk protein, serat, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, dan kalium.
Mie instan memiliki kandungan garam yang sangat tinggi, dengan satu kemasan mengandung 1.760 mg natrium, atau 88% dari rekomendasi 2 gram yang disarankan oleh WHO.
Berikut ini rekomendasi batas maksimal konsumsi mi instan dari ahli gizi.
Jangan lebih dari dua kali seminggu
Menurut ahli gizi Dr. Arif Sabta Aji, S.Gz., MQM, konsumsi mi instan memang tidak ada batasnya. Meski begitu, anjurannya tidak lebih dari dua kali dalam satu minggu. Dan pastikan disertai dengan tambahan sayuran serta protein seperti telur atau daging.
Perihal ini, ia mengatakan bahwa tiap orang mesti mengenali kondisi tubuh masing-masing. Apabila seseorang punya riwayat hipertensi contohnya, maka dapat mengurangi bumbu mi instan yang digunakan atau menggantinya dengan bumbu racikan sendiri.
Sementara itu, ahli gizi UM Surabaya Tri Kurniawati, dilansir laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, menegaskan sebaiknya mi instan tidak dimakan lebih dari 2 bungkus dalam seminggu. Ia juga menyarankan untuk menambah sayuran dan protein jika hendak mengkonsumsinya.
Makan mi instan terlalu sering dapat berpengaruh positif terhadap obesitas abdominal dan hiperkolesterolemia.
“Konsumsi mi instan lebih dari dua bungkus dalam seminggu dikaitkan dengan tingginya peningkatan sindrom metabolik pada wanita,” kata Tri.
Dampak terlalu sering makan mi instan
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa mengonsumsi mie instan secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Berikut adalah beberapa bahaya makan mie instan yang perlu diketahui:
1. Meningkatkan Tekanan Darah
Salah satu bahaya makan mie instan terlalu sering adalah dapat meningkatkan tekanan darah karena kandungan natrium yang tinggi di dalamnya. Berdasarkan jurnal Nutrient, satu porsi mie instan dapat menyumbang asupan garam harian hingga 80% dan ini belum termasuk asupan garam dalam makanan lainnya. Mengonsumsi garam melebihi batas asupan harian dapat membuat tekanan darah naik dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
2. Gangguan Ginjal
Kandungan garam yang tinggi di dalam mie instan juga diketahui dapat memengaruhi fungsi ginjal, terlebih jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah banyak. Jika fungsi ginjal terganggu, maka akan terjadi penumpukan natrium dan cairan dalam tubuh yang memicu pembengkakan di kaki. Penumpukan cairan tersebut juga bisa terjadi di organ lainnya, seperti jantung dan paru-paru.
3. Gangguan Pencernaan
Bahaya mie instan bagi kesehatan berikutnya adalah berisiko menimbulkan gangguan pencernaan. Ketika melalui proses pengawetan, makanan ini ditambahkan dengan zat TBHQ (tertiary-butyl hydroquinone), yaitu pengawet berbahan dasar minyak yang juga terkandung dalam pestisida.
Selain itu, waktu mencerna yang lama juga menyebabkan terjadinya penumpukan mie instan dan memperberat kerja sistem pencernaan. Oleh karena itu, jika mie instan dikonsumsi setiap hari, hal ini berpotensi menimbulkan penyakit yang serius seperti sembelit dan usus bocor.
4. Penyakit Jantung
Kandungan natrium yang tinggi dalam mie instan tidak hanya bisa menaikkan tekanan darah dan mengganggu fungsi ginjal, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung karena adanya kandungan MSG (monosodium glutamat) yang digunakan agar rasa mie instan lebih gurih. Itulah sebabnya, mie instan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita hipertensi dan gagal jantung kongestif, serta pengguna obat-obatan antidepresan dan obat diuretik.
5. Diabetes
Salah satu bahan yang terkandung dalam mie instan adalah maida, yaitu olahan tepung terigu yang sudah melewati proses penggilingan, penghalusan, dan pemutihan. Perlu diketahui, maida tidak mengandung nutrisi apa pun, selain hanya kaya akan rasa.
Maida juga memiliki kandungan gula yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan gula darah. Ketika mengonsumsi bahan olahan ini, organ pankreas akan melepaskan hormon insulin untuk mencernanya, yang mana proses ini memerlukan waktu dan berpotensi menyebabkan penyakit diabetes tipe 2.
6. Penyakit Liver
Bahaya makan mie instan bagi kesehatan selanjutnya adalah berpotensi menimbulkan penyakit liver. Pasalnya, makanan ini mengandung pengawet atau zat aditif dan kandungan garam tinggi yang jika dikonsumsi terlalu sering dapat menekan kerja organ hati (liver) karena sulit terurai.
Jika kondisi ini dibiarkan dalam waktu yang lama, kinerja hati dapat menurun dan cenderung menimbun lemak berlebih di dalam selnya. Penumpukan lemak tersebut berisiko menimbulkan kerusakan pada liver. Ketika fungsi liver terganggu, risiko retensi air (kelebihan cairan yang menumpuk dalam tubuh) yang menyebabkan pembengkakan akan meningkat.
7. Obesitas
Berat badan berlebih atau obesitas juga termasuk salah satu efek samping terlalu sering makan mie instan. Pasalnya, pada satu bungkus mie instan terdapat sekitar 14 gram lemak jenuh. Yang mana angka tersebut sudah mencakup 40% kebutuhan lemak harian. Di samping itu, mie instan juga mengandung kalori tinggi. Jadi, meskipun mengenyangkan, tubuh tidak mendapatkan gizi yang cukup dari mie instan.
8. Malnutrisi
Dampak mie instan bagi kesehatan tubuh berikut adalah dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, terutama pada anak-anak. Walaupun mie instan dinilai praktis dan disukai oleh semua kalangan termasuk anak-anak, kandungan serat, protein, vitamin, dan mineral di dalamnya sangatlah rendah.
Kekurangan nutrisi pada anak dapat menyebabkan tubuh mengalami ketidakseimbangan kandungan zat mikronutrien dan makronutrien. Sementara itu, seluruh zat gizi ini diperlukan sebagai sumber energi, membentuk massa otot, menjaga sistem kekebalan tubuh, dan perkembangan otak.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, rekomendasi maksimal makan mi instan adalah dua kali dalam seminggu. Jika ingin menikmatinya, tambahkan topping sehat seperti sayuran, daging ayam, atau telur. Pola makan sehat bergizi seimbang lewat makanan utuh tetap harus menjadi prioritas untuk menjaga kesehatan. (Seruni/Berita Inspira)**
