BANDUNG INSPIRA-Pengelolaan sampah di Kelurahan Gempolsari mulai diarahkan dari sekadar membuang menjadi memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali. Melalui program Gempolin (Gerakan Mengolah Data, Pilah, Olah, Manfaatkan Sampah Terintegrasi Berbasis Masyarakat), masyarakat tidak hanya didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah, tetapi juga terlibat dalam pencatatan dan pengaturan pengangkutan sampah melalui aplikasi.
Melalui aplikasi tersebut, warga bisa memasukkan jenis dan perkiraan berat sampah, menentukan titik pengumpulan, mengunggah foto, kemudian mengajukan permintaan pengambilan. Sampah yang telah dipilah pun tidak perlu menumpuk di rumah karena dapat dikumpulkan pada titik yang telah ditentukan untuk kemudian diangkut oleh petugas.
Salah seorang warga RT 04 RW 04 Kelurahan Gempolsari, Hesti mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Menurutnya, warga di lingkungannya mulai terbiasa memilah sampah, meski masih membutuhkan pendampingan dalam proses pengolahannya.
“Alhamdulillah sih terbantu sekali. Soalnya warga sini baru bisa memilah, belum bisa mengolah. Jadi dengan adanya Gempolin ini terbantu sekali,” ujar Hesti, Kamis 20 Agustus 2026.
Di RT 04 RW 04, terdapat beberapa titik pengumpulan yang menjadi lokasi pengambilan sampah oleh petugas. Warga cukup mengisi data sampah yang akan diangkut melalui aplikasi dan meletakkannya di titik kumpul yang telah ditentukan.
Penerapan Gempolin juga berjalan bersamaan dengan edukasi kepada masyarakat. Warga RT 09 RW 10, Ibu Iim mengatakan, sosialisasi dilakukan secara bertahap karena belum seluruh warga terbiasa memilah sampah berdasarkan jenisnya. Pengelolaan sampah organik di lingkungannya juga mulai dilakukan melalui sistem tersebut.
“Karena warga itu tidak semua memilah. Jadi, secara bertahap mereka dari kelurahan terus mensosialisasikan bahwa sampah itu harus dipilah menurut jenisnya, organik dan non-organik,” jelas Iim.
Sementara itu, warga RT 08 RW 10, Ibu Yuliah melihat Gempolin tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk meminta pengangkutan sampah. Pencatatan melalui aplikasi dan keberadaan titik kumpul dinilai membantu membuat proses pengambilan sampah lebih teratur. Warga dapat mencantumkan lokasi, jumlah, jenis sampah, hingga foto sebelum mengirimkan permintaan pengambilan.
Menurut Yuliah, sistem tersebut membantu petugas mengetahui jumlah sampah yang harus diangkut sehingga proses pengangkutan dapat disesuaikan dengan jumlah petugas yang bertugas.
“Buat menertibkan aja sih kayaknya gitu, menertibkan berapa banyak sampah yang sudah diolah, terus berapa banyak mungkin volume yang bisa diolah sama tim Gober dari Kelurahan Gempolsari,” ujar Yuliah.
Pengelolaan sampah melalui Gempolin tidak berhenti pada proses pengangkutan, tetapi berlanjut hingga tahap pemanfaatan. Sampah organik yang dikumpulkan di antaranya dimanfaatkan di kawasan Buruan Sae Mekarwangi RW 04 untuk diolah menjadi pupuk bagi tanaman.
Sedangkan Ketua Buruan Sae Mekarwangi, Deny menjelaskan, hasil pengolahan sampah organik tersebut digunakan untuk mendukung kebun yang ditanami berbagai jenis sayuran, seperti sawi, pakcoy, cabai, terung, hingga umbi-umbian.
Hasil kebun selanjutnya dapat dirasakan kembali oleh masyarakat. Sebagian hasil panen diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan, sementara hasil yang berlebih dapat dijual. Pendapatan dari penjualan tersebut kemudian digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan kebun, termasuk membeli pupuk.
Pemanfaatan hasil pengolahan sampah juga dirasakan warga di kawasan Buruan Sae. Ibu Heti dari RT 01 RW 05 menjelaskan bahwa sampah yang telah dipisahkan, terutama sampah organik, kemudian diolah hingga menjadi kompos.
Hasil kebun selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk mendukung penanganan stunting dan dibagikan kepada warga. Jika hasil panen berlebih, sebagian dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan kebun lainnya.
Gempolin pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang penggunaan aplikasi. Di balik data yang dimasukkan warga, terdapat kebiasaan baru untuk memilah sampah dari rumah, sistem pengangkutan yang lebih teratur, serta upaya mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat bagi masyarakat (Bambang/Berita Inspira)
