BANDUNG INSPIRA – Pemerintah Kota Bandung menggandeng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membangun fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi Solid Recovered Fuel (SRF).
Fasilitas itu direncanakan berdiri di Satuan Wilayah Kerja (SWK) Arcamanik. Salah satu lokasi yang tengah disurvei berada di kawasan Gedebage.
Nota kesepahaman pembangunan fasilitas tersebut ditandatangani di Balai Kota Bandung, Jumat (21/8/2026).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pabrik SRF ini ditargetkan mampu menangani hingga 300 ton sampah per hari.
Prosesnya disebut berlangsung cepat. Diawali pertemuan dua pekan lalu, dilanjutkan survei lapangan sepekan kemudian, hingga akhirnya tercapai kesepakatan.
“Insya Allah fasilitas ini mampu menangani hingga 300 ton sampah per hari. Prosesnya berjalan sangat cepat. Dua minggu lalu kami bertemu, seminggu kemudian turun ke lapangan, dan hari ini sudah tercapai kesepakatan bersama,” ujar Farhan.
CTO BPI Danantara, Sigit Puji Santosa menjelaskan, teknologi SRF mengolah sampah padat menjadi bahan bakar turunan dengan nilai kalor tinggi.
Hasilnya nantinya bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk industri, pabrik, maupun pembangkit listrik PLN.
“Teknologi yang digunakan berbasis pengolahan sampah padat menjadi bahan bakar turunan atau Solid Recovered Fuel. Sampah diolah sehingga menghasilkan bahan bakar berkalori tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan bakar industri, pabrik maupun pembangkit listrik PLN,” kata Sigit.
Keunggulan lain dari proyek ini adalah konsep pengolahan yang terdesentralisasi. Artinya sampah diproses di masing-masing kawasan, tidak perlu semua diangkut ke TPA.
“Kota Bandung memiliki enam SWK yang nantinya berpotensi dilengkapi fasilitas pengolahan sampah serupa. Lebih hemat biaya, ramah lingkungan, dan tidak ada pembakaran terbuka. Hasil olahan juga bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan warga sekitar,” ucap Sigit.
Dengan sistem ini, beban pengangkutan dan penumpukan sampah di TPA diharapkan berkurang.
Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto menyebut perguruan tinggi dilibatkan untuk mengkaji teknologinya. Sampah organik maupun nonorganik akan dipilah lalu diproses menjadi SRF.
“Fokus kami pada teknologi yang dijelaskan, sampah organik maupun nonorganik dipilah, kemudian diproses menjadi bahan bakar turunan atau SRF,” kata Brian.
Ia menyebut teknologi ini merupakan hasil pengayaan berbagai disiplin ilmu dan mengacu pada rujukan dari Turki. Setelah dikaji, SRF dinilai paling cocok diterapkan di Bandung.
Brian berharap proyek ini bisa jadi percontohan nasional.
“Proyek ini merupakan percontohan atau pilot project. Jika berhasil, setiap SWK akan dilengkapi fasilitas serupa dan diharapkan menjadi model bagi daerah lain di Indonesia,” tandasnya. (Bambang/Berita Inspira)
