4 Fakta Unik Soal Kartini, Kritisi Praktik Poligami Meski Dipoligami

JAKARTA INSPIRA,- Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 tahun 1964 oleh Presiden Soekarno. Tanggal 21 April dipilih karena bertepatan dengan tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat alias Kartini yaitu 21 April 1879.

Sampai saat ini Hari Kartini diperingati setiap tahun sebagai simbol perjuangan kaum perempuan dalam mencapai kesetaraan atau emansipasi. Selain dari sosoknya yang tangguh dan sangat lantang menyuarakan perlawanan terhadap budaya patriarki, Kartini tetaplah seorang manusia biasa seperti kita yang juga memiliki kisah-kisah lain selama hidupnya. Berikut penulis mencoba mengumpulkan fakta-fakta unik tentang Kartini :

Tidak Pernah Menyusun Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Banyak yang tidak asing dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”, tetapi banyak juga yang tidak sadar bahwa itu bukanlah buku yang dengan sengaja disusun oleh Kartini. Buku ini disusun oleh sahabat Kartini bernama Mr. JH Abendanon dari kumpulan surat-surat yang ditulis oleh Kartini dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dengan judul dalam bahasa Belanda “Door Duisternis tot Licht”. Sebelas tahun kemudian barulah buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”oleh Balai Pustaka.

Menjadi Istri Ke-Empat dan Tetap Mengkritisi Poligami

Pada usia 24 tahun, Kartini diminta oleh orang tuanya untuk menikah dengan seorang bupati Rembang bernama Adipati Joyoningrat berusia 50 Tahun. Adipati Joyoningrat adalah seorang

Bupati Rembang yang sudah memiliki 3 istri. Dari pernikahannya ini, Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Mas Soesalit Djojodiningrat

Dikutip dari buku Tapak-tapak Pejuang karya A. Suryana Sudrajat, berikut pendapat Kartini tentang poligami:

“Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah, yang apabila sudah bosan dengan anak-anaknya, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam,” tulis Kartini kepada Stella Zeehandelaar, sahabat korespondensinya.

Katanya, meskipun hal itu seribu kali tidak boleh disebut dosa menurut ajaran Islam, selama-lamanya dia tetap menganggapnya sebagai dosa. “Bisa dibayangkan bagaimana siksaan yang harus diderita seorang perempuan jika suaminya pulang bersama perempuan lain sebagai saingannya yang harus diakuinya sebagai istri suaminya yang sah?”

Vegetarian

Pada 27 Oktober 1902, kartini mengirim surat kepada Nyonya Abendanin dan mengatakan bahwa dia mencoba untuk menjalani hidup sebagai seorang vegetarian.

“Kami sudah memikirkan untuk melakukannya (menjadi vegetarian), saya bahkan hanya makan sayur selama bertahun-tahun. Tetapi saya masih belum memiliki cukup keberanian moral untuk melanjutkannya. Saya masih terlalu muda,” tulis Kartini dalam suratnya.

Selain itu, ada juga kutipan lain dari Kartini yang sering kali dikutip oleh para vegetarian di Indonesia, yaitu “Vegetarisme itu dia tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi.”

Mengenalkan Ukiran Jepara ke Daratan Eropa

RA.Kartini pernah menulis prosa dalam bahasa Belanda berjudul “Vergeten Uit Hoekje”yang dalam bahasa Indonesia artinya “Pojok yang Dilupakan”. Dalam prosa ini, Kartini menceritakan Kota Jepara yang memiliki banyak sekali seniman ukir tetapi tidak pernah mendapatkan penghargaan yang berarti.

Selain membuat prosa, Kartini juga mencoba untuk menghubungi orang-orang Belanda yang ada di Batavia dan Semarang untuk mempromosikan hasil kerajinan ukir seniman-seniman Jepara. Sampai pada akhirnya Kartini dapat melakukan Pameran di Belanda pada tahun 1898 di Den Haag, Belanda bersama dua adiknya, yaitu Roekmini dan Kardinah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.