Pengolahan Sampah Organik di Gedebage Meningkat Signifikan, Gaslah Jadi Pemasok Terbesar Capai 92 Ton
BANDUNG INSPIRA – Pengolahan sampah organik di Pasar Induk Gedebage, Bandung, menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sampah sayur dan buah dari program Gaslah (Gerakan Sadar Olah Sampah) kini diolah lewat metode biodigester dengan kapasitas yang terus bertambah.
Direktur Utama PT Prosignal Karya Lestari Aldi Ridwansyah mengatakan, grafik tonase Gaslah di seluruh Kota Bandung sudah mencapai 92 ton. Dalam sebulan terakhir, pasokan harian naik dari 20–25 ton menjadi 30–35 ton per hari.
“Grafik tonase Gaslah di seluruh Kota Bandung saat ini sudah mencapai 92 ton. Dalam sebulan terakhir ada peningkatan cukup signifikan. Dulu hanya berkisar 20–25 ton per hari, sekarang sudah mencapai 30–35 ton per hari,” ujar Aldi di Balai Kota Bandung, Rabu (29/4/2026).
Kenaikan pasokan dipicu bertambahnya wilayah yang aktif mengirim sampah organik. Saat ini minimal enam kecamatan rutin berkontribusi tiap hari, dengan Kecamatan Kiaracondong sebagai penyumbang terbesar.
Rata-rata tiap kelurahan menyetor sekitar 500 kilogram sampah organik per hari pada kondisi optimal. Sampah masuk ke fasilitas pengolahan pukul 07.30–12.00 WIB.
Aldi menyebut sampah olah dapur (SOD) paling mudah diproses. Dalam satu hari sudah bisa jadi bahan baku kompos. TPST Gedebage bahkan masih punya kapasitas tambahan 20 ton per hari untuk mengantisipasi overload Gaslah.
Meski naik, banyak wilayah belum optimal mengirim sampah organik. Kendala utama adalah jarak dan distribusi, terutama bagi kelurahan yang jauh dari Gedebage.
“Untuk wilayah sekitar Gedebage relatif sudah optimal. Tapi untuk wilayah yang lebih jauh, kemungkinan masih terkendala distribusi atau pengolahan di wilayah masing-masing,” jelas Aldi.
Kelurahan Sukajadi, Sukagalih, Cipedes, dan Pajajaran sudah rutin kirim sampah. Namun masih ada wilayah lain yang belum terpetakan optimal.
Fasilitas Gedebage tak hanya menerima sampah, tapi juga mendistribusikan kompos ke pengirim. Sekali kirim, petugas Gaslah bawa 500 kg sampah organik dan bisa pulang membawa 300–600 kg kompos, tergantung kapasitas.
Saat ini ada 15 kelurahan rutin terlibat program ini. Di antaranya dari Kecamatan Kiaracondong, Mekar Mulya, Panyileukan, Gedebage, Cicendo, dan Sukajadi.
Keunggulan Gaslah adalah sampah sudah terpilah dari sumber, sehingga mempermudah pengolahan. “TPST Gedebage memang didesain khusus untuk pengolahan sampah organik, bukan residu. Dengan adanya lonjakan Gaslah, apalagi setelah Lebaran, kami bahkan sempat menghentikan sementara pengolahan residu domestik agar fokus ke organik,” kata Aldi.
Selain SOD, beberapa kelurahan juga kirim ranting dan daun kering sebagai starter kompos untuk menjaga keseimbangan karbon.
Aldi optimistis, jika seluruh wilayah Bandung optimalkan Gaslah, volume pengolahan sampah organik bisa bertambah hingga 40 ton per hari.
“Kalau semua wilayah sudah optimal, potensi peningkatan sangat besar. Ini bisa jadi solusi nyata mengurangi beban sampah kota,” tandasnya.(Bambang)**
Foto:Bambang/ Berita Inspira


