“Lebih parahnya lagi sebagian besar obesitas didapatkan di remaja, bukan di orang tua atau di usia 40 tahun,” ujar Ni Kadek saat ditemui di Ulin Padel By Ahadiat, Kamis (27/8/2026).
Ia menilai, peningkatan obesitas dipicu perubahan pola hidup masyarakat setelah pandemi Covid-19. Banyak warga yang menjadi malas gerak atau “mager”.
Selain itu terjadi pergeseran pola makan. Jika sebelumnya masyarakat banyak mengonsumsi “real food”, kini lebih banyak fast food yang tinggi gula dan tepung.
Faktor lain adalah minimnya kesadaran untuk bergerak. Pasalnya, hampir semua aktivitas saat ini bisa dilakukan dari rumah.
“Untuk itulah, Komunitas Main Padel Aja Dulu mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan tubuh lewat gerakan bertajuk ‘1 Menit Bebas Obesitas’,” katanya.
Ni Kadek menegaskan, nama “1 Menit Bebas Obesitas” bukan berarti seseorang bisa langsung kurus hanya dalam waktu satu menit.
“Bukan berarti dengan 1 menit kita bisa bebas obesitas, dari gemuk langsung kurus. Tapi dengan kita punya waktu satu menit aja, kita bisa mengubah pola hidup kita dan keputusan kita untuk lebih baik lagi, sehingga kita bebas obesitas,” ungkapnya.
Salah satu olahraga yang direkomendasikan komunitas ini adalah padel. Menurut Ni Kadek, padel memiliki banyak manfaat untuk kebugaran dan penurunan berat badan.
Pertama, melatih endurance atau daya tahan tubuh. Kedua, melatih strength atau kekuatan karena raket padel memiliki bobot lebih dari 100 gram. Saat berlatih, gerakan memukul bola mirip dengan latihan beban meski tidak seintens di gym.
Ketiga, melatih agility atau kelincahan karena pemain dituntut terus bergerak dan berpindah tempat. Keempat, melatih awareness atau kewaspadaan terhadap datang dan perginya bola.
Selain aspek fisik, padel juga berdampak pada kesehatan mental. Olahraga ini dilakukan berkelompok dan dalam komunitas sehingga pemain bisa bersosialisasi. Hal ini dinilai bisa mengurangi risiko depresi yang juga menjadi pemicu obesitas.
Padel juga dapat meningkatkan hormon bahagia.
“Intinya asal konsisten sesuai anjuran, satu minggu minimal 3 kali latihan itu sudah bisa menurunkan 20 persen berat badan dalam waktu 1 bulan,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, H. Hendy Maulana Y, ST., http://M.AP yang membuka acara latihan Komunitas Main Padel Aja Dulu mengatakan, Kota Bandung saat ini menjadi barometer perkembangan olahraga padel di Indonesia.
“Tempat latihan padel di Kota Bandung pun kini cukup banyak, lebih dari 50,” ujar Hendy.
Ia mengaku sudah beberapa kali mencoba padel. Menurutnya, olahraga ini cocok bagi mereka yang memiliki basic raket seperti bulutangkis, tenis, dan lainnya.
Hendy menyebut, padel sudah resmi masuk sebagai cabang olahraga di PON. Ia berharap padel Kota Bandung bisa menjadi salah satu cabor penyumbang medali emas.
“Terlebih Porprov Jabar akan dilaksanakan November mendatang di Bekasi. Diharapkan, padel Kota Bandung bisa menyumbang emas pada event tersebut. Mudah-mudahan atlet Kota Bandung bisa memberikan emas di Porprov dan PON,” ujarnya.
Terkait dukungan Pemerintah Kota Bandung, Hendy mengatakan pihaknya memberikan dukungan yang sama seperti cabang olahraga lainnya.
“Dukungan dilakukan lewat mitra yakni KONI yang memberikan pelatihan, bimbingan dan anggaran bagi cabor. Sementara dinas selalu hadir dalam semua kegiatan turnamen dan lainnya,” tandasnya. (Bandung/Inspira)
