Menghidupkan Warga Jaga Warga, Menyemai Kembali Semangat Siskamling
ADA sesuatu yang mengalun pelan dari lorong-lorong Kota Bandung, seperti bisikan malam yang tak pernah tidur. Kentongan di pos ronda, obrolan sederhana di bawah cahaya lampu jalan, hingga langkah-langkah kecil warga yang saling menjaga. Dari sanalah lahir denyut kehidupan kota: warga jaga warga, warga jaga kota.
Bandung bukan sekadar kumpulan gedung, jalan, dan riuh kendaraan. Bandung adalah wajah-wajah hangat yang saling menyapa, tangan-tangan yang rela menolong, hati-hati yang tak tega membiarkan tetangganya sendirian. Maka ketika Pemerintah Kota Bandung menggulirkan program “Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota”, seolah ia hanya mengulang apa yang sudah lama hidup dalam jiwa kita: rasa ingin melindungi, rasa ingin berbagi.
Siskamling yang dulu kita kenal dengan ronda malam, secangkir kopi di pos kecil, dan suara kentongan di tengah hening, kini mendapat makna baru. Ia bukan lagi sekadar penjaga keamanan, tetapi penjaga kebersamaan. Ia menjaga lingkungan dari sampah, menjaga anak-anak dari kesepian, menjaga kota dari retaknya kepedulian.
Bayangkan, bila setiap pos ronda kembali berdenyut—bukan hanya untuk berjaga dari marabahaya, tetapi juga menjadi ruang kecil tempat warga berkumpul, bertukar kabar, hingga merajut asa. Dari sinilah Bandung menemukan kekuatannya: bukan pada gedung tinggi, melainkan pada hati yang saling menjaga.
Pada akhirnya, menjaga kota adalah menjaga cinta. Cinta kepada tetangga, cinta kepada lingkungan, cinta kepada Bandung yang kita sebut rumah. Sebab kota ini akan tetap indah, selama warganya rela berjaga—bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati. (Gin)
Keterangan Foto:
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memukul kentongan saat mendatangi salah satu daerah di Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Kota Bandung)


