Mengenal Cabor Bridge Lebih Dekat, Para Atlet Asal Unpad Ini Berbagi Cerita 

BANDUNG INSPIRA – Sosok Michael Bambang Hartanto dikenal saat berhasil mendapatkan medali perunggu pada nomor Supermixed team untuk cabang olahraga bridge. Usianya yang sudah muda lagi menjadi perhatian banyak orang, hingga akhirnya cabor yang baru pertama kali dipertandingkan pada saat Asia Games 2018 silam tersebut diminati. 

Di Kota Bandung, seorang atlet cabang olahraga (cabor) bridge, Nijar Krismawan dari UKM Brige Unpad pun yang sukses memboyong Juara 2 Bridge kelas Beregu pada Kejurnas tahun 2017 berbagai cerita apa itu brige yang mungkin belum diketaui banyak orang. 

“Bridge adalah cabor yang menggunakan kartu sebagai medianya dan biasanya dimainkan beregu. Bridge sendiri biasa dipakai untuk bermain remi, dimainkan oleh empat orang dalam satu meja,” tutur Nijar, beberapa waktu lalu kepada Inspira. 

Lebih jauh ia pun menjelaskan seperti apa bridge itu dimainkan, menurutnya saat permainan berlangsung dilakukan dalam satu meja dan berpasangan dua lawan dua. Selanjutnya, posisi duduk diatur sesuai arah mata angin. “Pasangan pertama duduk di arah utara dan selatan melawan pasangan kedua yang duduk di posisi timur dan barat,” bebernya. 

Bahkan, cara bermain bridge hampir sama seperti permainan Cangkul dan Truf, namun ada kontrak khusus yang harus disepakati sebelum bermain. Selanjutnya, setelah menentukan kontrak, tujuan pasangan pertama adalah mencapai kontrak dan pasangan kedua adalah menggagalkan kontrak.

Lalu apa sebetulnya manfaat bermain bridge? Dari beberapa sumber yang berhasil dirangkum Inspira, bridge sangat membutuhkan ketelitian dan kecerdikan pemaian dalam membaca situasi. Selain itu juga, brige memiliki banyak manfaat yang bisa didapatkan karena bermain bridge.

”Manfaat yang saya rasakan adalah melatih komunikasi dengan orang lain, karena kita bermain berdua tidak sendiri, berbeda dengan catur, selain itu melatih strategi juga, dan melatih kita dalam mengambil keputusan yang tepat.” ucap Nijar.

Di Indonesia, cabang olahraga bridge untuk tingkat Nasional seringkali dipertandingkan di Pekan Olahraga Daerah (Porda) dan Pekan Olahraga Nasional (PON). Disamping itu, ada juga lomba yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta atau perusahaan BUMN dan Universitas.

“Event tersebut juga kerap digelar banyak pihak seperti  Universitas, PT PLN, Telkom dan Djarum.” imbuh Nijar.

Sayangnya, meski sudah masuk dalam cabor, namun regenerasi untuk brige tidak sebanyak cabang olahraga lainnya. Menurut Abdurahman Al-Farizi, salah satu atlet bridge yang aktif di UKM Bridge Unpad yang berhasil meraih medali perak dalam Kejurnas Bridge Junior U-21 tahun 2017 ini, di Jawa Barat ada banyak atlet bridge yang sudah senior dan sering mengikuti kejuaranaan. Namun untuk regenerasi atletnya masih sangat kurang.

“Kalau untuk atlet senior Jawa Barat cukup stabil, performanya selalu bagus di kejuaraan tapi kalo di mahasiswa yang aktif sekarang hanya ITB dan Unpad.” ucapnya.

Sebagai Atlet Bridge yang sudah banyak meraih prestasi dalam cabang olahraga ini, Nijar dan Abdurahman sangat berharap Bridge bisa lebih dikenal secara luas oleh masyarakat dan adanya regenerasi atlet-atlet bridge di Indonesia khususnya di Jawa Barat.

Seperti diketahui, pada tanggal 12 Desember 1953 di Surabaya, didirikan sebuah organisasi bernama Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI). Di 34 provinsi, GABSI memiliki cabang kepengurusan yang disebut Pengurus Provinsi (Pengprov) dan di tingkat kabupaten/kota disebut Pengurus Daerah (Pengda).

Pada tahun 1957 untuk pertama kalinya pertandingan Bridge berskala nasional di selenggarakan di Yogyakarta dan tahun 1960 GABSI bergabung dengan Komando Gerakan Olahraga (KOGOR) yang kemudian dibubarkan pada tahun 1966 dan digantikan menjadi Komite Olahraga Nasional (KONI).

Sementara ditingkat internasional, Gabsi pada tahun yang sama juga bergabung menjadi anggota WBF dan Far East Bridge Federation (FEBF) yang kini berganti nama menjadi Pasifik Asia Bridge Federation (PABF).

“Harapan saya bridge lebih dikenal lagi oleh masyarakat, karena bridge di masyarakat awam itu masih dianggap olahraga baru bahkan masih banyak orang yang tidak tau bridge itu apa, inginnya lebih dikenal dan orang-orang jadi bisa bermain juga.” ucap Nijar menutup perbincangan. (YSR/magang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.