BANDUNG INSPIRA – Lapas Kelas IIA Perempuan Bandung menggelar pertunjukan drama kolosal yang melibatkan 407 warga binaan dan petugas. Kegiatan ini juga tercatat dalam Rekor MURI dan akan menerima penghargaan langsung dari Bapak Jaya Suprana di Jakarta.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung Gayatri Rachmi Rilowati mengatakan, persiapan kegiatan ini dilakukan selama kurang lebih 3 bulan.
“Jadi pada hari ini kami menyelenggarakan drama kolosal yang melibatkan warga binaan dan petugas. Dan untuk kegiatan pada hari ini juga dicatat dalam Rekor MURI. Tapi untuk penghargaannya nanti akan diberikan secara langsung oleh Bapak Jaya Suprana di Jakarta,” ujar Gayatri.
Drama yang dipentaskan dan melibatkan warga binaan serta petugas mengangkat cerita rakyat Sunda “Ciung Wanara”.
“Pesan karena ini cerita Ciung Wanara itu, menggambarkan tentang perjuangan, ya. Perjuangan yang tidak mudah, kemudian mengajarkan tentang kejujuran. Dan itu diharapkan kita, sifat-sifat baik tersebut dimiliki oleh seluruh warga binaan dan juga petugas lapas,” jelasnya.
Gayatri menyebut kegiatan ini bertujuan menjadi role model pelestarian budaya Sunda yang mengandung nilai luhur pendidikan karakter. Sekaligus menghapus stigma negatif terhadap warga binaan.
“Talenta luar biasa. Mereka yang tadinya nol, hari ini kami buktikan menjadi amazing,” katanya.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Brigjen Pol. Drs. Mashudi menyampaikan apresiasi kepada Lapas Perempuan Bandung.
“Pada kesempatan malam hari ini, Lapas Kelas IIA Perempuan untuk wilayah Jawa Barat, telah melaksanakan kegiatan salah satu kesenian kolosal yang diikuti oleh semua warga binaan. Dan ini salah satu program pembinaan daripada pemasyarakatan,” kata Mashudi.
Ia menegaskan, kegiatan seni seperti ini merupakan terobosan pembinaan agar pemasyarakatan selalu humanis dan memberikan pelayanan yang baik. Tujuannya agar warga binaan memiliki talenta untuk dikembangkan setelah bebas.
“Baru kali ini. Pada tahun 2026. Tapi untuk kegiatan-kegiatan yang lain, UMKM, termasuk ketahanan pangan, kita wajibkan seluruh 627 lapas, rutan, LPKA, termasuk bapas. Ini salah satu program pembinaan untuk kita semuanya,” ujarnya.
Mashudi juga mengapresiasi kreativitas Kalapas. “Ini salah satu kreatif semuanya itu tergantung kalapasnya. Kalau kalapasnya kreatif, saya yakin dia akan memberikan yang terbaik untuk warga binaannya supaya semuanya bisa ada kegiatan dan tidak monoton di dalam.”
Ia turut mengapresiasi karya batik warga binaan yang dinilai memiliki nilai kreatif dan ekonomi. “Layak menjadi contoh bagi semua pemasyarakatan di Indonesia.”
Kegiatan ini diharapkan menjadi proses membangun kepercayaan masyarakat dan wujud nyata pemasyarakatan yang bermanfaat untuk masyarakat.(Bambang/Berita Inspira)**
