Beca Mang Odik’ Wujud Inovasi dari Jabar Juara Lahir Batin Kuatkan Dunia Pendidikan Cadisdik Wilayah I

JABAR INSPIRA – Sebuah program unggulan lewat inovasi bernama ‘Beca Mang Odik’ atau Beja-beja Carita nu Mangpaat jeung Obrolan nu Ngadidik dihadirkan Cabang Dinas Pendidikan (Cadisdik) Wilayah I Jawa Barat. Program tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap perwujudan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2018-2023 yakni terwujudnya Jawa Barat Juara Lahir Batin dengan Inovasi dan Kolaborasi.

Inovasi tersebut lahir dari gagasan Cadisdik Wilayah I Jabar di masa kepemimpinan Drs. Dadang Sufyan Saifullah,M.Pd. Program ini diterapkan di seluruh sekolah jenjang SMA/SMK dan SLB khusus di Wilayah I Jabar tepatnya Kabupaten Bogor.

Tujuan lainnya, guna mengangkat segala potensi positif, baik melalui penguatan kearifan lokal serta seluk beluk dunia pendidikan.

Dengan harapan dapat dijadikan sumber informasi maupun rujukan bagi masyarakat yang ingin mengetahui berbagai informasi, tak terkecuali terkait pembelajaran.

Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacadisdik) Wilayah I Jabar, Nonong Winarni mengungkapkan hadirnya inovasi menjadi sebuah keniscayaan di tengah sejumlah disrupsi yang dihadapi dewasa ini.

Apalagi, visi Dinas Pendidikan Jawa Barat yang merupakan panduan utama bagi seluruh satuan pendidikan, memiliki semangat mewujudkan akselerasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan.

Sehingga mampu berdaya saing menuju terwujudnya masyarakat Jawa Barat yang mandiri, dinamis dan sejahtera.

“Nama unik khas Sunda, Beca Mang Odik ini terinspirasi dari visi Jawa Barat. Program ini diharapkan memberikan manfaat dan berkontribusi mewujudkan Jawa Barat Juara Lahir Batin dengan Inovasi dan Kolaborasi,” jelas Nonong, Jumat (4/10/2022).

Dalam spirit Beca Mang Odik, Nonong menjelaskan, maka sekolah untuk jenjang SMA/SMK dan SLB diharapkan mampu menghidupkan learning community alami dalam entitas guru atau tenaga kependidikan (GTK). Beca Mang odik juga memiliki filosofi mendorong dari belakang, seperti yang lazim dilakukan oleh penarik Becak. Ini senada dengan makna dari Tut Wuri Handayani, bahawa dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.

Pada pelaksanaannya, menurut Nonong, Beca Mang Odik ditayangkan melalui media audio visual dengan ragam yang bisa dipilih, termasuk juga tema yang ditayangkan. Setiap sekolah, juga bebas menentukan tema dan ragam media audio visual yang akan ditampilkan sepanjang sesuai dengan ketentuan khusus.

“Intinya penayangan program BMO melalui media audio visual dengan ragam yang bisa dipilih pada ketentuan khusus. Program ini diikuti oleh seluruh sekolah di Wilayah I Jawa Barat baik itu SMA, SMK maupun SLB,” paparnya.

Nonong menambakan, terkait saluran yang dapat dimanfaatkan dalam audio visual tersebut, sekolah dapat memilih berbagai jenis media audio visual penayangan untuk kegiatan BMO, baik itu melalui podcast, talk show nara sumber atau tokoh, diskusi pendidikan dengan terkait persoalan kekinian atau informasi up date, paparan narasi bahkan bisa juga dengan stand up comedy.

“Jadi salurannya jelas melalui media audio visual, apakah itu melalui podcast, talk show dengan tokoh, diskusi, bahkan stand up comedy yang semuanya bisa ditayangkan secara audio visual,” tambahnya.

Disinggung terkait kriteria materi penayangan, Dia menjelaskan, terdiri dari 40% materi yang dapat menunjang nuansa budaya Jawa Barat, 20% info sekolah, dan 40% hiburan. Cadisdik Wilayah I Jabar juga memberikan keleluasaan tema melalui kriteria khusus yang dapat menjadi alternatif pilihan atau acuan penayangan penyajian bagi tiap sekolah.

Adapun tema yang dipilih setiap sekolah, seperti kegiatan religius, praktik unggulan dalam proses pembelajaran, profil dan tokoh inspiratif baik dari lingkungan siswa, GTK maupun tokoh di wilayah sekolah dan sekitarnya. Tema penayangan juga dapat dipilih dari sejarah, seni budaya, sosial ekosoni yang menarik, serta budaya kearifan lokal di wilayah setempat.

Lebih lanjut, untuk menjaga kualitas hasil program, tak hanya membatasi durasi tayangan setiap program dengan maksimal durasi 30 menit, penerapan program Beca Mang Odik juga sepenuhnya diserahkan segala tanggung jawabnya kepada tim pengelola IT.

“Disamping itu ada aturan yang wajib dipatuhi seluruh sekolah agar tetap menjaga kaidah kesopanan, tidak mengandung unsur SARAPPP yakni suku, agama, ras, antargolongan, perundungan, pornografi dan pornoaks. Kemudian batas pengiriman video juga kami atur dengan ditetapkan seminggu sebelumnya harus dikirim ke tim kreatif dan dilanjutkan ke tim seleksi. Hal itu tak lain untuk menjaga kualitas tayangan termasuk penyempurnaan jika ada yang harus disempurnakan tim pengelola IT,” papar Nonong.

Nonong menambahkan, grand design dari program Becak Mang Odik disamping menggali potensi satuan pendidikan dan langkah nyata mencetak generasi unggulan, hasil dari program tersebut juga diharapkan dapat menjadi rujukan sumber informasi bagi masyarakat luas.

“Semoga ini dapat menjadi sumber informasi rujukan bagi masyarakat yang mudah diakses. Misalnya ingin mengetahui program unggulan proses pembelajaran, seni budaya, info sekolah, termasuk juga informasi-informasi lain seputar dunia pendidikan yang dapat menjadi bahan informasi bagi masyarakat,” tandasnya. (TRIW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *