BANDUNG INSPIRA – Kepergian Bambang Sutrisno (Trisnoize), personel band legendaris PAS, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan musisi. Bambang Sutedjo (Bengbeng), rekan satu band sekaligus kakak kandung almarhum, menyampaikan permohonan maaf sekaligus menceritakan kenangan terakhir bersama Trisno.
“Saya memohon minta maaf kalau ada adik saya ada salah. Mohon dimaafkan. Dan semoga adik saya dilapangkan dan diterangkan di alam kuburnya dan ditempatkan di sisi Allah,” ujar Bengbeng seusai pemakaman di TPU Cikutra, Minggu (02/08/2026).
Bengbeng menyebut Trisno adalah pribadi yang supel dan memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Hal itu terlihat dari banyaknya rekan yang hadir mengantar kepergian terakhirnya.
“Ya kan terus terang adik saya itu orang supel, banyak temannya sama berbagai kalangan. Jadi ya seperti ini, banyak yang bisa nemenin pemakamannya,” katanya.
Bengbeng yang telah mengenal Trisno selama 2 tahun dan mengawali karier ngeband bersama almarhum, mengenang sosok Trisno sebagai pribadi yang tempramental namun juga humoris.
“Saya dekat kan sama dia ngeband juga pertama sama dia. Jadi saya tahu persis orangnya, sama dengan sifatnya tempramental tapi humoris juga,” ungkapnya.
Menurut Bengbeng, Trisno adalah sosok penting dalam musikalitas PAS. Lagu-lagu PAS yang progresif, rumit, dan menjadi hits, sebagian besar adalah karya Trisno.
“Dan kalau teman-teman dengerin lagu PAS yang progresif, yang ngejelimet, yang hits pasti dari dia. Tapi kalau PAS yang biasa dari kita bersama. Tapi kalau yang hits sama yang boleh dibilang ngejelimet pasti dari dia,” jelasnya.
Konser terakhir bersama PAS adalah di Bogor dalam acara Ulang Tahun Kota Bogor. Sementara penampilan terakhir Trisno adalah dengan project solonya di Tasikmalaya, dua minggu sebelum ia masuk rumah sakit. Saat dirawat, Trisno sempat bernostalgia bersama Bengbeng.
“Enggak sih, terakhir saya sama adik saya bernostalgia. Jadi waktu dia di rumah sakit pengen didengerin murotal Al-Quran dan pengen didengerin juga lagu-lagu waktu pertama kita ngeband,” kenang Bengbeng.
Bagi Bengbeng, kepergian Trisno sangat berat. “Saya sudah ditinggal pasangan hidup istri saya dan sekarang saya juga ditinggal pasangan main musik adik saya. Kita sering berdebat ya, kita sering menghasilkan karya,” tuturnya lagi.
Kepergian Trisno menjadi kehilangan besar bagi skena musik Indonesia, khususnya bagi PAS dan para penggemar yang telah tumbuh dengan karya-karyanya. (Bambang/Berita Inspira)**
