BERITA INSPIRARELIGI

Yuk Simak ! Inilah 5 Adab Tertawa Dalam Islam

adab tertawa menurut ajaran agama islam

RELIGI, INSPIRA – Banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang muslimah. Mulai dari adab berbicara, cara berjalan , melirik hingga tertawa pun ada adab tersendiri dalam agama Islam. Berikut beberapa  adab tertawa dalam Islam diantaranya:

  1. Meneladani Nabi baik senyuman dan tawa beliau

Dari Ka’ab bin Malik r.a, ia berkata: “Rasulullah apabila (ada sesuatu yang membuatnya) senang (maka) wajah beliau akan bersinar seolah-olah wajah beliau sepenggal rembulan.”(HR Al-Bukhari kitab Al-Maghaazi)

  1. Cukup tertawa secukupnya dan tidak memperbanyak tertawa

“ Berhati-hatilah dengan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan  hati.”(Hadits Shahih, Shahiibul Jaami (No. 7435))

  1. Tidak boleh tertawa secara berlebihan dan terbahak-bahak dengan suara yang keras.

Pada dasarnya etika tertawa dijelaskan dalam hadist berikut:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata.”(HR.Al-Bukhari)

Selain itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Yaitu, tidaklah aku melihat beliau berkumpul dalam hal tertawa, dimana beliau tertawa dengan sempurna dan suka akan hal tersebut secara keseluruhan.”

Tertawa secara berlebihan dapat menyebabkan seorang muslimah kehilangan izzahnya dan mengundang keburukan. Seperti halnya ketika ada seorang laki-laki yang hendak mendekatinya. Tertawa berlebihan juga dapat memicu keributan dengan orang lain yang merasa terganggu. Sejatinya, seorang muslimah dianjurkan untuk senantiasa tersenyum tetapi tidak banyak tertawa.

  1. Tertawa bukanlah suatu profesi karena hal itu alami dan lumrah terjadi.

“ Celakalah bagi orang-orang yang bercakap-cakap dengan suatu perkataan untuk membuat sekelompok orang tertawa (dengan perkataan tersebut), sedang ia berbohong dalam percakapan itu, celakalah baginya dan celakalah baginya. (Hadits hasan yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Selanjutnya, dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan bahwa jika seseorang berbicara dengan suatu pembicaraan yang benar dengan maksud membuat orang lain tertawa, maka hukumnya adalah boleh. Al-ghazali berkata, “Jika demikian, haruslah sesuai dengan cana Rasulullah, tidak dilakukan kecuali dengan benar  dengan tidak menyakiti hati dan tidak pula berlebih-lebihan.”

  1. Jangan tertawa apabila hanya untuk mengejek atau mencela orang lain.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik  dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita  (mengolok-olokkan) wanita lain (karena)  boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”(QS. Al-Hujurat:11)

– PNA

Sumber: Sulsel.pojoksatu.id

About Us

Inspira Media adalah Media Holding yang bergerak di bidang content creator, content management, serta distribusi informasi dan hiburan melalui berbagai platform.