Bidik Status Warisan Dunia, Pemkot Bandung Hidupkan Kawasan Asia Afrika Lewat Diplomasi Budaya
BANDUNG INSPIRA– Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika jadi titik tolak Pemerintah Kota Bandung menghidupkan kembali kawasan Jalan Asia Afrika. Tidak hanya seremoni, Pemkot menargetkan kawasan bersejarah ini masuk daftar kandidat warisan dunia UNESCO dalam empat tahun ke depan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pengajuan ke UNESCO jadi bagian dari upaya menjadikan Bandung sebagai pusat sejarah dunia yang aktif, bukan sekadar monumen. “Kami sedang mengajukan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai kawasan warisan dunia dengan target dalam empat tahun ke depan bisa masuk kandidat UNESCO,” ujar Farhan di Hotel Savoy Homann, Minggu (19/4/2026).
Farhan menegaskan, status warisan dunia hanya bisa diraih jika kawasan terus hidup dan punya daya tarik global. Karena itu, rangkaian peringatan KAA digelar dari April hingga Juli dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Kawasan ini tidak boleh sepi, harus terus dihidupkan dengan berbagai event agar memiliki nilai tambah dan daya tarik global,” katanya.
Paralel dengan itu, Pemkot menyiapkan penataan infrastruktur menyeluruh. Mulai dari perbaikan jalan, trotoar ramah disabilitas, hingga revitalisasi gedung-gedung bersejarah yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. “Kami juga menyiapkan penataan infrastruktur, mulai dari perbaikan jalan, trotoar ramah disabilitas hingga revitalisasi gedung bersejarah,” tuturnya.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang hadir dalam peringatan di Hotel Savoy Homann mendukung langkah Bandung. Ia menyebut KAA sebagai tonggak besar diplomasi Indonesia yang menjadikan Bandung pusat pertemuan bangsa Asia dan Afrika.
“Konferensi Asia Afrika ini adalah satu tonggak sejarah yang sangat besar dalam diplomasi kita dan menjadikan Bandung sebagai pusat pertemuan bangsa Asia dan Afrika,” kata Fadli Zon.
Fadli menekankan, budaya adalah kekuatan lunak atau soft power yang mampu menjembatani perbedaan saat politik kerap memicu konflik. Kesamaan budaya di Asia dan Afrika, menurutnya, jadi energi pemersatu yang memperkuat solidaritas global.
“Budaya adalah soft power, kekuatan yang mampu menjadi jembatan ketika politik seringkali menimbulkan konflik dan perpecahan,” ujarnya.
Untuk memperkuat narasi sejarah, Fadli berencana membuka koleksi foto KAA miliknya sebagai domain publik. Tujuannya agar dokumentasi penting itu bisa diakses masyarakat dan generasi mendatang sebagai bagian dari warisan dunia.
Dengan kombinasi penataan fisik, aktivasi event, dan penguatan diplomasi budaya, Bandung menegaskan komitmen menjadikan Jalan Asia Afrika bukan hanya situs sejarah, tapi pusat peradaban global yang hidup.(Bambang)**


