BANDUNG INSPIRA– Di sebuah ruangan berukuran 2 x 3 meter, seorang guru mendampingi satu anak autis belajar. Pemandangan seperti ini sudah 15 tahun terjadi di sekolah inklusi Karya Bhakti Kota Bandung.
Sekolah ini kini hanya memiliki 16 siswa di Dapodik. Rinciannya 5 anak autis, Down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, hingga double handicap. Jumlah yang terus menyusut karena orang tua takut menyekolahkan anaknya ke lokasi tersebut.
“Untuk keadaan real sekarang, kita masih bertahan. Yang jadi penting buat sekolah kita utamanya adalah murid. Tapi mencari murid sekarang agak sulit,” ujar Kepala Sekolah SLB B Karya Bhakti, Dedi Gusmawan, Selasa 28 Juli 2026.
Menurut Dedi, masalah utama bukan hanya jumlah siswa. Infrastruktur sekolah dan lingkungan sekitar menjadi “nilai minus”. Bangunan sudah lapuk. Dinding bagian atas rusak dan dikhawatirkan ambruk jika hujan terus selama 3 bulan. Saat hujan, kelas juga banjir dan bocor.
Ketua yayasan Karya Bhakti, Ummy Latipah menjelaskan, Selain faktor bangunan yang tidak layak faktor keamanan di sekolahnya menjadi penyebab jarangnya orang tua menyekolah anaknya di sekolah ini.
Ummy menyebut, lingkungan sekitar sering terdapat warga mabuk. Dulu, saya bahkan pernah diancam pakai golok. Kini masih ada intimidasi seperti orang masuk seenaknya dan meminta uang.
“Jalan satu-satunya mungkin kita harus pindah. Pertama banjir, kedua lingkungan keamanan tidak layak untuk lembaga pendidikan,” katanya.
Dengan kondisi seperti itu, saat ini sekolah bertahan dengan dana BOS. Gaji guru pun pas-pasan, sekitar Rp700 ribu per bulan. Dengan sertifikasi dan ekstrakurikuler paling mentok Rp1 juta.
“Ya enggak cukup. Ya dicukup-cukupin saja,” ucap Dedi.
Meski begitu, sekolah tetap dipertahankan. Alasannya sederhana: banyak anak disabilitas yang ditolak sekolah lain karena butuh penanganan khusus. Di sekolah ini, anak autis ditangani 1 guru untuk 1 anak. Untuk Down syndrome dan tunagrahita maksimal 5 anak per kelas agar kondusif.
“Di sini kami menerima semuanya, walaupun berdampak pada daya tampung yang jadi lebih kecil,” katanya.
Sukanya? “Setiap hari kami tidak pernah kehabisan alasan untuk tersenyum. Celotehan anak-anak membuat hari kami lebih berwarna,” ujarnya.
Ke depan, sekolah berencana membuka “Rumah Belajar” untuk anak sekitar yang tidak bisa baca. Tujuannya agar yayasan bisa lebih dekat dengan lingkungan.
Saat ini sekolah juga kekurangan alat terapi seni, visual, dan musik. Namun ada kabar baik, donatur dari Jepang dan DPD RI Bu Anggita berencana memberikan bantuan.
Jam belajar resmi 08.00 – 11.00. Tapi anak-anak sering pulang jam 14.00 karena betah. “Di sini ada temannya. Kondisi rumah mungkin juga,” tutup Ummy.
Tindak intimidasi dari preman di lingkungan sekolah karyabhakti juga di alami langsung oleh para tim jurnalis saat melakukan peliputan di sekolah tersebut. Namun tindakan premanisme langsung di atasi pihak Polsek Kiaracondong dengan menangkap preman yang meresahkan dan membawanya menuju kantor Polsek kiaracondong.(Bambang/Berita Inspira)**
