BANDUNG INSPIRA – Ekonomi Kota Bandung tumbuh 5,80% secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan II 2026, naik tipis dari 5,76% di Triwulan I 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung ini menunjukkan aktivitas ekonomi Kota Kembang tetap positif.
Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi pemerintah yang melonjak 31,90%, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) 8,95%, serta investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 3,65%.
Kepala Bapperida Kota Bandung Anton Sunarwibowo mengatakan, angka itu bukan sekadar statistik, melainkan dasar evaluasi untuk mempertajam arah pembangunan.
“Yang penting bukan hanya melihat angka pertumbuhan, tetapi memahami faktor yang mendorongnya dan melihat ruang penguatan agar pertumbuhan semakin produktif dan berkelanjutan,” ujar Anton, Selasa (23/9/2026).
Menurutnya, konsumsi domestik masih menjadi motor utama, namun fondasi pertumbuhan harus diperkuat lewat investasi, produktivitas dunia usaha, serta daya saing sektor perdagangan dan jasa.
Di sisi lain, stabilitas harga juga terjaga. Inflasi Kota Bandung pada Juli 2026 tercatat 2,79% yoy, deflasi 0,06% secara bulanan, dan inflasi year-to-date 1,53%.
“Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga perlu dilihat secara bersama untuk menjaga daya beli masyarakat,” katanya.
Sektor pariwisata turut menjadi penopang. Pada Juni 2026, tercatat 2,03 juta perjalanan wisatawan nusantara ke Kota Bandung, dengan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan nonbintang 54,58%. Sektor ini menggerakkan perdagangan, akomodasi, kuliner, transportasi, hingga ekonomi kreatif.
Namun, masih ada pekerjaan rumah. Net ekspor masih kontraksi dan inventori fluktuatif. Anton menegaskan Pemkot tidak berpuas diri dengan angka 5,80%.
“Ini bukan titik akhir, tapi bahan evaluasi untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki dan diperkuat ke depan. Perencanaan pembangunan harus berbasis data, terukur, dan responsif,” pungkasnya.(Bambang/Berita Inspira)
