BANDUNG INSPIRA – Militer Amerika Serikat (AS) Kembali melancarkan serangan tambahan terhadap Iran pada Minggu (12/7/2026) yang bertujuan semakin melemahkan kemampuan Republik Islam tersebut untuk menyerang kapal sipil yang melintasi Selat Hormuz.
“Pada pukul 17.00 sore ET hari ini, pasukan CENCTOM mulai melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran untuk melemahkan kemampuan mereka menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi Selat Hormuz,” demikian pernyataan CENTCOM di media sosial X.
Media pemerintah Iran juga melaporkan adanya sejumlah ledakan di beberapa wilayah selatan negara itu, termasuk Sirik dan Bandar Abbas, dua kota pelabuhan yang berada di kawasan Selat Hormuz.
Sedangkan pemerintah provinsi Hormozgan, yang berbatasan dengan selat tersebut, mengatakan bahwa sejauh ini belum ada laporan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Dilansir dari Aljazeera.com, serangan pada hari Minggu kemarin adalah babak terbaru dari eskalasi baru dalam pertempuran antara AS dan Iran, yang dimulai pada 7 Juli.
Tiga gelombang serangan terjadi hanya dalam seminggu terakhir, termasuk pada Sabtu malam, ketika Komando Pusat AS mengatakan telah menyerang sekitar 140 target militer Iran.
Iran telah merespons dengan serangan balasan terhadap instalasi militer AS di seluruh Timur Tengah, termasuk lokasi di Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Oman.
Baku tembak tersebut memperdalam pertanyaan tentang nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani AS dan Iran bulan lalu, yang menghentikan semua permusuhan secara “segera dan permanen”.
Pertempuran terbaru kedua negara ini sendiri terjadi setelah Teheran menembaki kapal-kapal dagang di Selat Hormuz dan pengumuman bahwa Iran akan menutup jalur air strategis tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut.
AS menilai serangan dan gangguan terhadap Selat Hormuz pelanggaran atas nota kesepahaman (MoU) yang diteken Juni lalu.
MoU ini dibuat dengan tujuan menghentikan semua permusuhan secara “segera dan permanen”. MoU dimaksudkan menjadi landasan negosiasi di masa depan antara kedua pihak dalam upaya mengakhiri perang.
Namun, kendala utama kedua pihak selau berputar di Selat Hormuz, jalur maritim vital yang bertanggung jawab atas 20 persen minyak dan gas alam cair dunia. (Seruni/Berita Inspira)**
