Zakat Outlook 2023

NUR EFENDI CEO Rumah Zakat (2011-2022) Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UNISBA Bandung .

Dua tahun kebelakang, merupakan tahun-tahun yang begitu berat bagi bangsa ini, tahun-tahun penuh perjuangan bagi elemen masyarakat untuk dapat perlahan mengatasi kondisi pandemi covid-19 yang begitu berdampak pada kesehatan, kehidupan sosial hingga ekonomi. Di Indonesia, BPS (2020 – 2022) mencatat tren fluktuatif terkait data presentase penduduk yang berada dalam garis kemiskinan, peningkatan ketimpangan ekonomi masyarakat, dan penambahan pertumbuhan ekonomi.

Di tengah kondisi yang serba sulit tersebut, rupanya masyarakat negeri ini memiliki rasa solidaritas yang begitu tinggi, budaya yang sangat baik yaitu gotong royong membuat kita mampu bertahan dan keluar dari situasi sulit ini. Pada tahun 2021 dan 2022 bahkan, Indonesia tetap dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia dengan skor World Giving Index tertinggi di antara negara-negara lainnya. Artinya apa? Di tengah kesulitan, masih ada secercah harapan dari masyarakat dermawan negeri ini.

Rumah besar gerakan zakat Indonesia, Forum Zakat (FOZ) pada tahun 2021 mencatat sebanyak 163 lembaga organisasi pengelola zakat se-Indonesia terlibat dalam penanganan pandemi. Dalam waktu 7 bulan, FOZ telah menyalurkan bantuan dengan total lebih dari Rp 567 miliar dengan beragam program untuk membantu masyarakat. Instrumen filantropi Islam seperti zakat, infak dan sedekah pun berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung dan dianggap berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Tahun 2022 adalah tahun pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi. Tahun ini, Indonesia sukses menyelenggarakan hajatan G20 dengan tema besar “Recover Together, Recover Stronger”. Berbagai organisasi mengusung tema pemulihan untuk perlahan bangkit menyongsong era pasca pandemi. Walaupun ekonomi Indonesia belum sepenuhnya pulih, tetapi perlahan pertumbuhan itu mulai terlihat.

Yuswohady (2022) dalam “Marketing Outlook 2023: Melesat di Dalam Gelap” mencatat beberapa tantangan utama yang sudah berada di depan mata pada tahun 2023 yang sangat perlu disikapi yaitu: Pertama. Isu resesi global. Kedua. Situasi ekonomi-sosial pascapandemi dan Ketiga. Tahun menjelang tahun politik. Beberapa isu tersebut tentu saja baik secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap perkembangan dunia filantropi Islam terutama lembaga zakat di Indonesia.

Berdasarkan survei konsumen pada Agustus 2022, kepercayaan konsumen terhadap ekonomi semakin meningkat. Tercatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) meningkat dari 123,2 pada Juli 2022 menjadi 124,7 pada Agustus 2022, yang secara konsisten tetap berada di wilayah optimis dengan angka indeks di atas 100 (Yuswohady, 2022). Dalam masa pemulihan ini, pertumbuhan ekonomi nasional terlihat terjadi peningkatan pada beberapa sektor utama seperti pada sektor industri, perdagangan, hingga pertanian, walau pada sektor lainnya seperti konstruksi terjadi penurunan (BPS, 2022).

Tantangan lain yang muncul adalah permasalahan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat. Mengacu pada survei Indeks Literasi Zakat Tahun 2022, faktor yang menjadi alasan utama masyarakat dalam memilih tempat menunaikan zakat adalah faktor kredibilitas, transparansi dan akuntabilitas pengelola zakat (71,53%). Hal ini dapat diartikan bahwa mayoritas masyarakat sangat mengharapkan lembaga-lembaga zakat dapat bekerja secara profesional dan transparan dalam pengelolaan dana yang mereka titipkan. Saat ada salah satu lembaga kemanusiaan yang menghadapi permasalahan terkait transparansi dan akuntabilitas, maka lembaga serupa lainnya akan mendapatkan risiko paparan reputasi yang sama yaitu berkurangnya kepercayaan publik.

Dekorasi Ulang Strategi Pengelolaan Zakat 2023

Dengan berbagai isu dan tantangan-tantangan di atas, ada baiknya lembaga-lembaga zakat mengatur ulang dan memperkuat strategi pengelolaan zakat di tahun 2023. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyikapi isu krisis ekonomi. Pertama. Lembaga zakat dapat menetapkan target muzaki baru atau memperluas segmentasi baru, yaitu muzaki atau sektor-sektor tertentu yang menurut data justru mengalami pertumbuhan (seperti yang dipaparkan diawal) dan tidak menimbulkan krisis ekonomi. Kedua. Program-program lembaga zakat dapat melakukan antisipasi untuk mengatasi permasalahan krisis ekonomi. Ketiga. Pengelolaan lembaga zakat bisa lebih efektif dan efisien.

Walaupun menurut laporan Bank Dunia Pertumbuhan Indonesia dapat menembus 5,1 % pada tahun 2022 dan pada tahun 2023 diproyeksi pada level tersebut, tetapi beberapa pengamat juga meminta Indonesia tetap waspada terhadap resesi global. Yuswohady (2022) menyarankan agar para pelaku usaha menerapkan strategi ‘lean and agile’, yaitu fokus pada efisiensi agar siap menghadapi krisis, tetapi juga tetap lincah mencari peluang-peluang yang ada. Lembaga zakat harus dapat meningkatkan nilai yang ada dalam organisasinya, sekaligus mencari peluang-peluang pada berbagai sektor yang belum digarap oleh lembaga zakat.

Mengenai tantangan transparansi dan profesionalisme, lembaga zakat dapat mengatur ulang kembali pola komunikasi kepada publik yang merupakan kunci mendapatkan kepercayaan publik. Transparansi dan keamanahan mengelola dana menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Dalam hal ini, pembenahan internal harus dilakukan, mengkomunikasikan terus dampak kebermanfaatan pengelolaan zakat, hingga peningkatan kapasitas dan kompetensi amil dapat dilakukan lembaga untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat.

Perlu diperhatikan, tahun 2023 adalah tahun menjelang 2024 ketika kontestasi politik Indonesia ditentukan. Maka, tahun ini menjadi tahun bagi lembaga zakat untuk membuktikan kemandiriannya. Lembaga zakat harus tetap menjaga netralitas dan integritas dalam pengelolaan zakat dan menyimpulkannya serta membatasi regulasi yang berlaku. Dalam hal ini, amil zakat memiliki kode etik tersendiri yang tercantum dalam Perbaznas nomor 1 tahun 2018.

Dengan beragam tantangan yang sudah berada di depan mata, tidak bisa tidak lembaga-lembaga zakat di Indonesia harus berkolaborasi bersama-sama mewujudkan pengelolaan zakat yang semakin profesional, transparan, dan akuntabel, sehingga target pengumpulan zakat nasional yang dicanangkan sebesar 33 Triliun dengan pertumbuhan 38 % dapat berdampak dalam upaya pengentasan kemiskinan, pemulihan ekonomi pasca pandemi, dan yang terpenting, keberkahan kepada bangsa dan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *