Yayasan Taruna Bakti Optimalkan Toleransi dan Berpikir Kritis Lewat Sekolah Pembauran

BANDUNG INSPIRA – Kunci Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas dan berkarakter merupakan hasil kesuksesan dari suatu sistem pendidikan itu sendiri.

Atas dasar itulah, Yayasan Taruna Bakti (YTB) dalam perjalanan sejarahnya sejak awal berdiri pada 12 Januari 1956 mengutamakan pelaksanaan ide sekolah pembauran yang diterapkan pada seluruh unit pendidikannya, mulai dari KB & TK Taruna Bakti, SD Taruna Bakti, SMP Taruna Bakti, SMA Taruna Bakti dan Akademi Sekretari & Manajemen Taruna Bakti (ASMTB).

Ketua Umum Pengurus Yayasan Taruna Bakti, Ibramsyah Amir menjelaskan Yayasan Taruna Bakti (YTB) sebagai yayasan pendidikan dengan konsep sekolah pembauran, pihaknya memastikan peserta didik memperoleh pelayanan yang bermutu dalam sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan.

“Mulai dari semua ruang kelas yang dilengkapi teknologi Hybrid Learning (layar TV pintar, kamera 360, mixer audio dan pen tablet), pilihan kelas bilingual, pendingin ruangan (AC), Gedung Olahraga (GOR) Taruna Bakti berstandar internasional, bus sekolah, perpustakaan modern & ruang baca outdoor di rooftop, laboratorium modern, kolam renang KB & TK, ruang audio visual, dan pastinya pelayanan pendidikan agama secara merata sesuai agama yang dianut oleh peserta didik,” paparnya.

Selain itu, lanjut Ibramsyah, pihaknya juga memfasilitasi perayaan kebersamaan hari besar keagamaan seperti Dharma Shanti, Idul Fitri/Idul Adha, Natal/Paskah dan acara keagamaan lainnya sehingga para peserta didik benar-benar ditanamkan toleransi sejak dini.

“Sehingga dapat berdampak kepada para peserta didik untuk berpikir kritis dalam keberagaman menuju keharmonisan yang menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” paparnya.

Terlebih melihat kondisi bangsa Indonesia dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi yang terdiri dari keberagaman sosial, etnis, budaya, ras, bahasa, agama, aspirasi politik dan lain sebagainya, maka dibutuhkan suatu konsep pendidikan yang berorientasi pada terwujudnya satu kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang utuh dan berbaur dengan menekankan kesederajatan dalam keanekaragaman yang diintegrasikan ke dalam sebuah konsep yang dikenal dengan nama pendidikan pembauran atau sekolah pembauran.

Dipaparkannya, pelaksanaan ide sekolah pembauran ini telah menjadi keistimewaan dan ciri khas dari YTB, karena telah dipahami, diyakini, dan dipraktikan dalam sikap serta pergaulan sehari-hari oleh seluruh keluarga besar YTB, mulai dari peserta didik, orang tua peserta didik, guru/dosen (tenaga pendidik), karyawan, hingga pembina, pengawas dan pengurus yayasan.

“YTB memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang tanpa membeda-bedakan latar belakangnya, baik suku, etnis, bangsa, kepercayaan, agama, maupun sosial-ekonomi,” tuturnya.

“YTB menghargai dan menghormati adanya segala perbedaan karena sebagai bentuk pengamalan dari Pancasila sebagai ideologi dasar Bangsa Indonesia,” sambung Ibramsyah.

Lebih jauh ia mengatakan, konsep sekolah pembauran yang diusung Yayasan Taruna Bakti (YTB) telah disesuaikan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berdasar pada silabus yang menjadi pedoman dalam kegiatan pembelajaran supaya peserta didik mampu mencapai kompetensi dasar dalam rangka mewujudkan Pelajar Pancasila yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

Berdasarkan data per November 2022, jumlah peserta didik yang sedang menjalani pendidikan di Yayasan Taruna Bakti (YTB) mulai dari tingkat KB & TK Taruna Bakti sampai dengan perkuliahan ASMTB adalah sejumlah 2.181 peserta didik dan ini terus silih berganti dengan peserta didik yang baru setiap tahunnya yang memiliki minat tinggi untuk bersekolah/berkuliah bersama Yayasan Taruna Bakti.

“Mari bersama Yayasan Taruna Bakti, ikut menginspirasi & mendukung generasi muda sebagai pembawa perubahan untuk ikut memajukan bangsa tercinta, tanah air Indonesia,” ujarnya.

Terlebih, menurutnya pendidikan merupakan kunci utama bagi suatu bangsa untuk unggul dalam persaingan global.

“Pendidikan juga dianggap sebagai substansi yang paling strategis untuk mewujudukan kesejahteraan nasional,” tandasnya. (TRIW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *