Warga Sukahaji Mengaku Dapat Intimidasi, Trauma dan Kehilangan Rasa Aman Usai Bentrokan
BANDUNG INSPIRA – Warga Kelurahan Sukahaji Kota Bandung, kembali menyuarakan keresahan usai bentrokan dengan kelompok ormas yang terjadi dalam proses sengketa lahan pada akhir November lalu. Sejumlah warga mengaku mendapat intimidasi, mulai dari ancaman menggunakan senjata tajam hingga ancaman pembakaran kawasan.
Dalam keterangan yang berhasil dihimpun Berita Inspira di lokasi, konflik bermula dari surat edaran yang memerintahkan warga mengosongkan lahan pada 26 November. Meski hari itu tidak terjadi penggusuran, muncul surat edaran kedua yang menyebut batas waktu pengosongan hingga 3 Desember, disertai rencana penurunan seribu personel. Kondisi itulah yang memicu kekacauan dan bentrokan.
Warga menegaskan bahwa sengketa lahan masih dalam proses persidangan. Namun, pihak yang mengklaim kepemilikan lahan tetap melakukan upaya pengosongan dengan melibatkan ormas. “Kalau mereka benar pemiliknya, kenapa tidak melalui jalur resmi seperti pengadilan? Kenapa pakai ormas?” ungkap salah satu warga setempat.
Setidaknya ada beberapa warga yang terluka akibat bentrokan. Beberapa mengalami luka bocor di kepala, terkena sabetan benda tajam, hingga pukulan bambu. Jumlah pasti korban masih didata. Warga juga melaporkan telah membawa korban ke Polres untuk menjalani visum dan membuat laporan polisi.
Hingga kini sekitar 600 kepala keluarga masih bertahan dari total lebih dari 1.000 kepala keluarga di empat RW terdampak. Banyak warga lain yang memilih pergi setelah menerima kompensasi Rp5 juta, namun beberapa di antaranya dikabarkan menyesal karena nilai kompensasi yang diterima tidak sepenuhnya mereka terima dan tidak sebanding dengan hilangnya tempat tinggal.
Pasca-bentrokan, warga dilanda ketakutan, bahkan anak-anak mengalami trauma akibat melihat langsung aksi kekerasan dan ancaman. “Setelah kejadian kemarin banyak anak ketakutan, tidak berani main keluar. Kami juga terus berjaga karena ada ancaman mereka akan datang lagi,” katanya.
Warga juga menyayangkan ketiadaan perlindungan dari pemerintah setempat. Pada saat bentrokan terjadi, polisi disebut berada di depan lokasi, namun tidak masuk ke area kejadian. Upaya meminta bantuan ke kelurahan pun dinilai tidak membuahkan hasil.
“Pemerintah tidak hadir. Tidak ada keberpihakan kepada masyarakat, mulai dari RT/RW, aparat kepolisian, sampai kelurahan. Kami merasa tidak ada yang melindungi,” tegas warga.
Warga Sukahaji berharap pemerintah kota, provinsi, hingga pusat turun tangan melihat kondisi Sukahaji yang mereka sebut sebagai situasi ‘menangis’. Mereka meminta proses hukum dihormati, serta keamanan bagi warga dijamin tanpa intimidasi dari pihak manapun.
“Mohon pemerintah melihat Sukahaji. Kami warga negara dengan identitas resmi dan hak yang sama. Tolong bantu kami,” ujar warga. (Fahmi)**
Foto : Fahmi


