Tragedi Wadas, Catatan Kepemimpinan Buruk

Oleh: Dr. Ace Somantri, M.Ag

INSPIRA,- Viral di berbagai media, terlebih media sosial. Kebenaran informasi dan situasi terkini di lokasi yang menjadi titik konsentrasi isu yaitu proses untuk eksekusi lahan milik warga wadas. Terlepas salah dan benar, bertebaran media masa elektronik lokal dan media sosial menunjukan penanganan akuisis lahan warga untuk industri tambang.

Pertanyaannya apakah pendekatan komunikasi pihak pemerintah sebagai penguasa daerah mengedepankan sifat dan karakter pelayanan yang simpati dan empati? Kenapa harus menurunkan aparat keamanan berlebihan dan berujung ricuh? Yang lebih mengerikan tersiar kabar masyarakat terdesak dan kumpul untuk menyelamatkan di dalam Masjid karena berhadapan dengan aparat yang punya semboyan PRESISI? apabila itu benar adanya, sangat di sesalkan karena aparat seharusnya melayani dan melindungi masyarakat.

Peristiwa yang memilukan tersebut, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial memiliki tergerak untuk melakukan advokasi persoalan di lokasi dan situasi yang terjadi. Lontaran suara resmi dari lembaga Hukum dan HAM Muhammadiyah, Pak Busyro Muqoddas mantan ketua KY dan KPK pun turun memberikan legitimasi dan bersuara lantang memprotes dan mengecam tindakan represif aparat. Beberapa hari isu terkait kasus wadas, terus menerus menjadi trending topik di layar smartphone dan android masyarakat.

Semoga peristiwa tersebut tidak menjadi teror bagi warga sekitarnya dan di tempat – tempat lain yang ada hubungannya antara lahan warga dengan Industri skala besar. Kejelian warga dan kebersamaan masyarakat tetap bergandeng tangan menghadapi oligarki kekuasaan dan penetrasi pemerintah daerah yang tidak memihak pada warga masyarakat sebagai rakyatnya. Hanya dengan kekuatan berjamaah kedzaliman terstruktur dapat di kalahkan, perkuat barusan shaf melawan penindasan kekuasaam oligarki yang tirani.

Catatan penting, bagi masyarakat Islam di manapun berada sangat perlu untuk memiliki narasi hak dan hukum kewarganegaraan. Jelas dan tegas sejarah menjadi referensi umat Islam, kampung Yatsrib tempat dan lokasi dimana tatanan ketatanegaraan dan hak-hak kewarganegaraan masyarakat saat itu benar-benar diatur sedemikian rupa, keadilan dan kejujuran sang pencerah peradaban menjalankan tata aturan sesuai ajaran Islam yang memihak pada kepentingan dan kemashlahatan nasyarakat secara pragmatis dan strategis. Di bawah Konstitusi Madinah, tata negara dan warga di bawah kepemimpinan yang pemberani, arif dan bijaksana. Sikap dan komptensi leadership yang di miliki tidak banyak namun efektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan negara dan warga tanpa melukai apalagi menyakiti.

Ada beberapa kriteria dalam kompetensi leadership yang dikembangkan pada saat Konstitusi Madinah sebagai dustur ( undang-undang) kala itu, sosok yang saat itu menjadi figur pemimpin yang memiliki sifat dan sikap sebagai berikut Pertama; Shiddiq, dimana skill yang di miliki sebagai leader kejujuran dan kebenaran berdasarkan linearitas aturan syara’ yang dapat di fahami secara rasional, logis dan objektif. Kedua; Amanah, dimana skill yang di miliki harus memahami dan sadar diri atas tanggungjawab yang dipercayakan, minimal kita di percaya hidup oleh Allah SWT maka di situlah ada amanah yang harus dipertanggung jawabkan.

Harta, tahta-jabatan, termasuk wanita pendamping dan anak semua itu tambahan kepercayaan Allah SWT yang harus di pertanggungjawabkan. Ketiga; Fathonah, dimana skill yang harus dimiliki yaitu intelektualitas dengan daya kreatifitas dan inovasi tinggi dalam penyelesaian masalah ( problem solver) dengan berbagai pendekatan dan metode, terlebih di era digital. Keempat; Tabligh, dimana skill yang di miliki, yaitu kemampuan komunikasi interaktif-dialogis dan negosisasi yang produktif untuk capaian target dan tujuannya, termasuk kemampuan membuka akselerasi antar institusi dan generasi.

Empat kompetensi itu, kriteria ideal yang sudah teruji dan terbukti. Untuk mengahadapi kompleksitas masalah sebuah kelompok masyarakat atau organisasi, sosoknya memiliki skill di atas. Peroalan bangsa dan negara di berbagai daerah, termasuk di Wadas Jawa Tengah, itu menunjukan ada indikasi kepemimpinan yang tidak memiliki kompetensi leadership yang di teladankan oleh nabi kita Muhammad SAW.