Rasulullah SAW dan Persoalan Agraria

RISALAH INSPIRA,- Ajaran islam datang membawa pesan keadilan. Pesan yang dibawa Rasulullah SAW di masa Jahiliyah ini merupakan bentuk revolusi terhadap tatanan masaya rakat pada saat itu.

Masa Jahiliyah digambarkan Surat Al Balad dalam Alquran sebagai suatu kondisi di mana tak ada keaddilan antara penguasa dan rakyat jelata atau si kaya dan si miskin.

Konflik ini juga terjadi dalam kasus penguasaan dan pemilikan sumber daya agraria. Biasanya seputar hewan ternak, mata air, padang rumput. Konflik tersebut dikenal dengan istilah “ayyam al Arab”.

Menghadapi kondisi tersebut, melalui Rasulullah SAW, ajaran Islam menawarkan solusi yang paling konkrit.

Konsep keadilan yang dibawa Islam dalam hal penguasaan dan pemilikan tanah serta sumber air adalah bahwa Islam menerima adanya pemilikan pribadi, namun menolak monopoli. Dapat dilihat dalam literatur ilmu Fiqih juga menerangkan tanah dapat dimiliki pribadi (haqqu al-tamlik), di sisi lain juga ada tanah yang dimiliki oleh pemerintah tapi juga diatur untuk kepentingan umum (al-hima’).

Sejarah peradaban Islam mencatat betapa pentingnya persoalan agraria ini, tercermin dari kerasnya nada Rasulullah SAW saat merespon orang-orang yang melakukan perampasan lahan secara aniaya terhadap orang lain dengan cara yang bathil:

“Barang siapa yang mengambil satu jengkal tanah yang bukan haknya, ia akan dikalungi tanah seberat tujuh lapis bumi di hari kiamat” (HR Muslim).

Hadits tersebut diriwayatkan oleh sahabat Said bin Zaid setelah mengalami konflik sengketa tanah dengan seorang perempuan bernama Arwa binti Uways, yang mengadukan permasalahan ini ke Marwan bin Hakam yang saat itu menjabat khalifah dinasti Umayyah.
Said bin Zaid merasa dirampas haknya oleh Arwa binti Uways sampai mengucapkan kutukan bahwa, jika memang benar haknya dirampas, “Semoga Allah membutakan matanya dan mematikannya di tanahnya”, yang kemudian dikabulkan. Arwa buta di sisa umur hidupnya sampai meninggal.

Menghadapi kasus kepemilikan tanah, Rasulullah SAW memperingatkannya dengan keras. Hak atas tanah merupakan pertaruhan diri yang perlu diperjuangkan.

Pengelolaan Tanah Kosong

Dari Hisyam bin Urwah ra dari ayahnya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang mengelola tanah kosong (mawat), maka hal tersebut telah menjadi hak kepemilikannya dan tidak ada hak bagi pelaku kedzaliman untuk mengambil dan merampasnya”.

Dalam Hadist lain, dari Rafi’ bin Khudaij dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Barang siapa yang bercocok tanam pada tanah orang lain tanpa sepengetahuan dan seizin mereka, maka pemilik tanah berhak membiayai tanaman itu. Sementara penanam tidak ada hak untuk mendapatkan hasil dari tanaman yang telah diusahakannya”.

Di tengah-tengah fenomena penguasaan oleh individu yang didapat dari pemberian tanah maupun pengelolaan tanah kosong, maka Rasulullah juga mengambil kebijakan dan menetapkan tanah larangan (hima’) untuk kepentingan umum, mengingat untuk menjaga kestabilan ekonomi umat Islam dan menghindari ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan tanah.

Adapun Rasulullah menetapkan Hima’ atas air, padang rumput dan api. Karena ketiganya merupakan sumber publik dan sumber penghidupan orang banyak, Rasulullah juga melarang privatisasi atas ketiganya. Maka, Rasulullah menetapkan hima atasnya dengan alasan agar masyarakat pada umumnya tidak terdzalimi. (GIN)