Penumpukan Sampah Pasca IdulFitri Jadi Fokus Pemkot Bandung 3 Hari Kedepan
BANDUNG INSPIRA – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengambil langkah cepat untuk mengatasi lonjakan sampah di jalan-jalan kota dengan menerapkan sistem pengangkutan setiap tiga jam selama tiga hari ke depan. Kebijakan ini diberlakukan menyusul penumpukan sampah yang terjadi berulang dalam waktu singkat, terutama menjelang momentum aktivitas tinggi warga.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan penanganan sampah kini menjadi prioritas utama Pemkot Bandung dalam kondisi darurat penumpukan. Penumpukan sampah di sejumlah titik terjadi dengan intensitas tinggi, bahkan bisa berulang setiap tiga jam. Kondisi penumpukan membuat pemkot harus bekerja ekstra cepat untuk menjaga kebersihan kota.
“Saat ini kita fokus selama tiga hari untuk mengangkut semua penumpukan sampah di jalan-jalan. Karena setiap tiga jam pasti terjadi lagi,” ujar Farhan saat ditemui di Plaza Balai Kota Bandung, Sabtu (21/3/2026).
Meski demikian, Farhan mengakui proses pengangkutan tidak bisa dilakukan sekaligus. Hal ini berkaitan dengan keterbatasan kapasitas penampungan dan distribusi sampah ke tempat pengolahan akhir. Sampah yang diangkut sementara akan diarahkan ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), sembari menunggu kuota pembuangan ke TPA Sarimukti kembali dibuka.
Kondisi ini memaksa Pemkot Bandung mengatur ritme distribusi sampah secara bertahap agar tidak terjadi overload di titik penampungan. Farhan mengapresiasi peran aktif masyarakat yang mulai melakukan pemilahan sampah, khususnya plastik untuk didaur ulang.
“Ini sangat membantu. Ketika masyarakat sudah memilah, beban pemerintah jadi jauh berkurang,” katanya. Farhan mencontohkan aktivitas warga di kawasan Cigondewah yang secara mandiri mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai guna.
Selain itu, Farhan juga mengingatkan pentingnya pengelolaan Sampah Organik Dapur (SOD) yang selama ini menjadi penyumbang terbesar volume sampah rumah tangga. Farhan meminta warga untuk mulai memilah sampah organik dari rumah sebelum dibuang, sebagai langkah awal pengendalian dari hulu.
“Pengolahan sampah organik tidak bisa lagi bergantung pada sistem akhir, melainkan harus diselesaikan di tingkat wilayah, terutama kelurahan,” ucapnya. Untuk itu, Farhan menegaskan peran camat dan lurah menjadi kunci dalam memastikan tidak ada lagi penumpukan sampah di wilayah masing-masing.
Farhan juga menginstruksikan agar sampah organik tidak dibuang ke TPS, melainkan diolah secara maksimal di tingkat lokal melalui berbagai metode pengolahan. “Di kelurahan itu harus selesai. Jangan sampai sampah organik terus menumpuk dan akhirnya dibuang ke TPS,” tegasnya.
Dengan berbagai metode pengolahan sampah, Farhan berharap volume sampah yang masuk ke sistem utama dapat ditekan, sekaligus mempercepat penanganan krisis sampah di Kota Bandung secara menyeluruh. (Bambang)**
Foto: Bambang/Inspira


