Pemkot Pastikan Stok Kedelai Aman, Namun Harga Belum Aman

BANDUNG INSPIRA,- Harga kacang kedelai dunia kembali mengalami kenaikan, tahun lalu kenaikan terjadi hingga ada di angka Rp 12.500/kg. Kini, harga kedelai kembali melambung diharga Rp 11.000/kg. Kenaikan tersebut diprediksi hingga bulan Mei 2022.

Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memberikan subsidi harga kacang kedelai. Subsidi diberikan agar distributor serta pengrajin tahu tidak terkena dampak kenaikan harga yang cukup signifikan.

“Yang pasti, dalam waktu dekat saya minta dinas terkait untuk membuat surat ke kementerian, mudah-mudahan kita bisa ada perlakuan khusus apakah itu subsidi seperti minyak goreng sehingga ujungnya harga itu tetep bisa harga seperti yang kemarin yakni di Rp 9.500,” ungkap Plt Wali Kota Bandung, Yana Mulyana saat ditemui di Pabrik Tahu NJ, Jalan Pasirkoja Bandung, Rabu (16/2/2022).

Kendati begitu, Yana memastikan stok kacang kedelai relatif aman meski diakuinya sebagian penghasil kedelai di Amerika mengalami gagal panen. Yana pun berharap pengrajin tahu di Kota Bandung tidak melakukan aksi mogok produksi dan tetap berproduksi.

“Sekarang ini kan di asosiasinya di Jakarta itu ada sekitar 140.000 ton sedang dalam perjalanan, sudah ada pembelian mungkin dalam waktu dekat sekitar 160.000 ton. Mudah-mudahan stok aman tapi soal harga memang ada kenaikan, karena memang harga internasional juga sedang naik,” bebernya.

Terkait dengan rencana sejumlah pengrajin tahu menaikkan harga, ia menyerahkan kebijakan tersebut kepada pedagang. Pihaknya berupaya mengintervensi harga di tingkat hulu.

“Itu mah kebijakan mereka (pedagang) saya juga nggak bisa ikut. Kita mah coba hulunya aja gitu ya di sisi supply-nya ya,” katanya. Yana menyebut agar kenaikan harga kedelai tidak terus terulang maka harus dilakukan swasembada kacang kedelai.

Akan tetapi, langkah tersebut relatif tidak mudah dilakukan cepat. Bahkan, penghasil kacang kedelai di Indonesia pun hanya bisa memenuhi kebutuhan di masing-masing tempatnya.

“Beberapa daerah penghasil di Jawa itu rata-rata mereka juga untuk menyuplai wilayahnya masing-masing gitu ya, yang lokal,” tandasnya. (TRI)