MUI dan Komnas Perempuan Kritik Keras Isi Ceramah Oki Setiana Dewi

JAKARTA INSPIRA,- Isi ceramah artis sekaligus pendakwah Oki Setiana Dewi terkait normalisasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terus bermunculan.

Tak hanya datang dari netizen, kecaman juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Muhammad Cholil Nafis mengatakan, apa yang disampaikan Oki Setiana Dewi tidak tepat. Sebab, dalam Islam, KDRT jelas-jelas sangat dilarang dan tidak bisa ditolerir.

“Islam melarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga,” katanya, Kamis (3/2).

Dia menjelaskan, jika seorang istri atau suami mengalami KDRT, alangkah lebih baiknya diceritakan kepada orang yang tepat. Lebih lanjut, dia mengatakan penyelesaian kasus KDRT sangat situasional.

Menurut Cholil, soal KDRT bisa diselesaikan dengan cara datang ke tokoh untuk meminta nasihat hingga dengan menempuh proses hukum.

“Cuma kita perlu mencari penyelesaian kalau terjadi KDRT. Apakah dengan nasihat, datang ke tokoh, arbitrase keluarga besan atau sampai pada pelaporan ke pihak hukum. Ini sangat kondisional,” ujarnya.

Terpisah, Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi mencatat ada tiga kesalahan fatal dalam isi ceramah Oki Setiana Dewi.

“Pertama, tidak masalah suami memukul istri. Kedua, istri tidak boleh menceritakan kekerasan yang dialaminya karena merupakan aib rumah tangga, dan ketiga, tidak mempercayai korban dan menilai dilebih-lebihkan,” kata Siti

Dia mengingatkan kaka Youtuber Ria Ricis itu, sebagai pendakwah harusnya memberikan penjelasan pada jamaahnya untuk mengerti aturan hukum.

“Mengingat perannya sebagai penceramah, maka terdapat kewajiban untuk mendorong jamaah taat pada aturan hukum juga menyampaikan tafsir keagamaan yang berpihak terhadap perempuan. Kekerasan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan dalam Islam, termasuk suami menampar istri,” tegasnya.

Menceritakan kekerasan yang dialami kepada orang tua, menurut Siti bukan membuka aib suami. Orang tua mempunyai peranan penting untuk memantau anak perempuannya diperlakukan dengan baik oleh pasangannya.

“Termasuk membantu menyelesaikan permasalahan rumah tangga,” katanya

Demikian pula ketika perempuan mengakses lembaga layanan atau mengklaim keadilannya kepada sistem peradilan pidana, itu juga bukan aib

“Lebih banyak korban yang tidak melapor atau bercerita. Korban-korban baik yang melapor ataupun tidak, tidaklah melebih-lebihkan apa yang dialaminya, tapi mencoba mendapatkan keadilan dan pemulihannya termasuk mencari bantuan untuk mendapatkan bantuan dan dukungan,” tutupnya. (GIN)