Mengkritisi adalah Mengingatkan Diri

Oleh: Dr. Ace Somantri, M.Ag (Dosen Univeristas Muhammadiyah Bandung)

INSPIRA,- Sejak abad 20-an ada pergeseran sikap dan prilaku manusia, dimana keterbukaan berfikir menjadi tren tersendiri. Bukan hanya dikalangan filosof dan ilmuwan saling mengkritisi teori, namun berkembang hingga dalam pengembangan teori dan implementasinya juga saling mengkritisi. Budaya kritis baik sekali untuk membangun karakter berpikir terbuka dan mengikis prilaku buta mata hati dan merasa paling baik dan benar, dalam islam di kenal istidraj.

Apabila ada ilmuwan yang anti kritik dan cendrung menolak saran secara subjektif dipertanyakan identitas keilmuanya. Padahal teologi Q.S. al Ashr sangat tegas dan jelas, bahwa instrumen kebaikan ada dalam sikap saling mengingatkan kebenaran. Persoalannya, kesadaran diri menerima atas kritik dan koreksi termasuk saran dari yang lain, keumuman orang cenderung tidak menerima apalagi bukan orang yang disukai.

Sebenarnya siapapun orangnya, ketika dia punya karakter kritis biasanya memiliki sikap berfikir merdeka. Hanya kriteria yang mana ketika budaya kritis menjadi instrumen pengingat diri. Saling mengkritisi hal yang lumrah dan biasa, bahkan menjadi budaya baik ketika mampu menstimulasi peningkatan kapasitas keilmuan dan keluwesan wawasan.

Bagaimana dengan sikap menjustifikasi yang menghakimi? karena kadang muncul juga dalam sebuah komunitas masyarakat ketika di dalamnya heterogen etnis, suku dan agama terjadi tekanan psikologis karena perasaan berbeda dan perasaan mayoritas dan minoritas kelompok tertentu.

Islam dengan al-Qur’an sebagai peraturan utama sangat fleksibel dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak ada yang lebih universal selain ajaran Islam, proses dan pengalaman beragama yang konsisten dan tidak ada pembaharuan ayat-ayat tekstual.

Mengingat diri untuk tetap menjaga dan merawat konsistensi beragama secara sungguh-sungguh hingga menemukan kesejatian sebagai mahluk yang Allah yang memiliki tugas dan amanah selama hidup di dunia. Ketidaksesuaian orkestrasi karena kepentingan manusia bermacam ragam, cukup mengalami kesulitan menjadi nada yang indah dan merdu.

Sama halnya, dalam sebuah kelompok orang yang multi interest di dalamnya ada kecenderungan berakhir dengan perselisihan dan pertentangan. Sebenarnya masyarakat sangat faham bahwa setiap individu tidak mungkin hidup dalam sebuah komunitas tidak memiliki kepentingan, namun di sayangkan dominasi hawa nafsu sering menutup rasio dan logika yang sehat. Interesting dalam suatu kelompok dan institusi hal yang wajar, bahkan menjadi kekuatan yang dahsyat untuk mencapai tujuan.

Kepentingan umat harus di atas kepentingan pribadi, sebagai sosok manusia yang lemah dan fana harus banyak menyadari bahwa kita bukan dewa apalagi Tuhan. Egosentris yang kerap kali muncul harus di tekan ke dalam dan kendalikan emosi yang dirasuki oleh dengki dan benci, mencari solusi lebih berarti.

Mata kita saat ini terbuka peristiwa demi peristiwa bukan di depan mata kita saja, melainkan saudara kita mempertahankan lahan dan tempat tinggal harus meregang nyawa. Masa hanya sekedar karena demam panggung jabatan RT, RW, DKM, organisasi profesi, organisasi Masyarakat, Institusi bisnis bahkan institusi pendidikan pun sering muncul komplik kepentingan.

Padahal demam jabatan bisa memancing sikap arogansi diri yang berlebihan, bahkan akan membawa pada petaka buat diri seseorang dan institusinya. Terlebih jabatan yang diambil dengan cara-cara yang melanggar kaidah institusi itu akan mewarisi tradisi. Dan yang memilukan ketika petaka demi petaka kerap muncul sebagai akibat yang di awali dengan pelanggaran kaidah institusi.