Mengenal Peristiwa Nakba, Tragedi Pengusiran Warga Palestina dari Tanahnya

JAKARTA INSPIRA,- Setiap tahunnya warga Palestina memperingati Nakba. Biasanya mereka akan berunjuk rasa dengan berorasi dan berpidato yang ditujukan pada pemerintahan Israel. Apa itu Nakba?

Nakba merupakan sebutan warga Palestina terhadap peristiwa eksodus massal yang menimpa setidaknya 750 ribu orang Arab di negara itu pada 1948.

Nakba sendiri berarti ‘kehancuran.’ Mengutip Al Jazeera, warga Palestina terus memperingati Nakba pada 15 Mei.

Sementara itu, 14 Mei 1948 merupakan hari di mana Kepala Badan Yahudi David Ben-Gurion, mengumumkan pembentukan negara Israel. Namun, harga mahal harus dibayarkan warga Palestina demi terbentuknya negara mayoritas Yahudi tersebut.

Imbas penetapan kemerdekaan Israel, ratusan ribu warga Palestina diusir dari tanah mereka demi membentuk negara mayoritas Yahudi sesuai keinginan gerakan Zionis.

Pada periode 1947 hingga 1949, setidaknya 750 ribu warga Palestina diusir dari tanah mereka. Pasukan Zionis mengambil 78 persen wilayah Palestina, menghancurkan sekitar 530 kota dan desa di sana, pun membunuh sekitar 15 ribu warga Palestina.

Dalam merayakan Hari Nakba pertama, pemerintah Palestina melangsungkan demo di beberapa kota Palestina, kamp pengungsi, dan kota-kota Israel. Demo tersebut berubah menjadi bentrok dengan pasukan pertahanan Israel (IDF).

Mengutip Haaretz, sebanyak empat warga Palestina terbunuh oleh tembakan IDF dan 71 lainnya terluka imbas demo tersebut.

Sementara itu, mantan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa “Israel tak bertanggung jawab atas tragedi Palestina, melainkan kepemimpinan mereka,” kala mengomentari pertama kali Nakba dirayakan.

Sejak itu, Hari Naba selalu diperingati setiap tahunnya, meski ditemani dengan insiden kekerasan.

Vox melaporkan, warga Palestina dan Israel memiliki ingatan yang berbeda terkait peristiwa Nakba.

Palestina melihat Nakba sebagai tahun-tahun berlakunya kampanye Yahudi yang menghapus etnis Arab Palestina. Sementara itu, Israel menyalahkan pelarian warga Arab, tentara Arab, dan insiden yang terjadi saat perang Arab-Israel.

Bila melihat sejarah, umat Yahudi sempat terancam persekusi anti-Yahudi pada akhir 1890-an. Melihat masalah itu, muncul perkembangan politik dan sosial di Eropa yang mengatakan bahwa warga Yahudi perlu memiliki negara sendiri. Gerakan itu dikenal sebagai gerakan Zionis.

Pada 1896 dan 1948, ratusan ribu warga Yahudi melakukan mobilisasi keluar dari Eropa ke wilayah Palestina yang kala itu dikuasai Inggris.

Sementara itu, kubu Arab melihat mobilisasi ini sebagai pengaruh gerakan kolonial Eropa, membuat kubu Arab kemudian berkonflik dengan umat Yahudi.

Untuk mengatasi kekacauan tersebut, Amerika Serikat membagi wilayah Israel-Palestina menjadi dua. Namun, warga Palestina menilai pembagian tersebut merupakan upaya mengusir mereka dari tanah perebutan dan berusaha melawan.

Pasukan Israel berhasil mengalahkan militan Palestina, membuat ratusan ribu warga negara itu mengungsi.

Setelah perang usai, Israel mendapatkan 77 persen wilayah perebutan, kecuali Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah timur Yerusalem. Ini membuat Israel memiliki negara, tetapi tidak untuk Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published.