Lapangan Pekerjaan dan Janji yang Belum Terpenuhi
PEKERJAAN bukan sekadar upah, tapi napas bagi keluarga, titipan harapan, dan fondasi untuk hari esok. Namun, di tengah hiruk-pikuk kota dan sunyi desa, ribuan rakyat masih bergulat dengan kesulitan memperoleh pekerjaan. Bahkan Presiden Prabowo Subianto mengakui: meski pemerintah telah berupaya membuka peluang, banyak yang masih menanti dalam sunyi.
Survei LSI Denny JA memperlihatkan wajah kegelisahan ini: 60,8 persen responden menilai kesempatan kerja semakin sulit, hanya 11 persen merasa lebih mudah, sementara 26,5 persen merasakan tak ada perubahan. Bukan sekadar angka, ini adalah cerita-cerita keluarga yang menunggu senyum pagi dari sebuah pekerjaan yang layak, harapan yang masih menggantung di langit.
Lapangan kerja adalah nadi kehidupan. Ketika peluang menyempit, bukan hanya kantong yang kosong, tapi juga hati yang rapuh, impian pun tertunda. Rapor merah ini adalah peringatan: janji terbuka luasnya peluang kerja harus dibarengi langkah nyata, bukan hanya retorika.
Pemerintah harus hadir di tengah mereka yang menanti —mendorong investasi, menguatkan UMKM, membekali tenaga kerja dengan keterampilan masa depan. Karena setiap kesempatan yang tercipta adalah doa yang dijawab, cahaya yang menembus gelap, dan langkah kecil menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.
Lapangan kerja bukan sekadar statistik atau janji kampanye. Ia adalah harapan yang hidup, yang bila diberikan, menumbuhkan senyum, menyalakan kembali keyakinan, dan menata masa depan bangsa. Jangan biarkan rakyat menunggu terlalu lama; setiap peluang yang terlambat adalah harapan yang meredup. (Gin)


