Ketika Kata Menyalakan Badai, Maulid Nabi Mengajarkan Damai
KATA-kata adalah benih. Di tangan yang bijak, ia menumbuhkan pengertian dan kedamaian. Di tangan yang sembrono, ia memicu gelombang kemarahan, merobek kepercayaan, dan menimbulkan badai di jalanan.
Belakangan, kita menyaksikan tingkah laku dan kata-kata pejabat yang menyinggung masyarakat. Pernyataan yang terlontar, keluar tanpa pertimbangan. Sikap yang ditunjukkan, melukai rasa keadilan publik.
Akibatnya, gelombang aksi unjuk rasa mengguncang kota, beberapa bahkan berujung anarkis, meninggalkan bekas luka bagi masyarakat dan citra lembaga yang dipimpin.
Dalam kegaduhan itu, gema Maulid Nabi Muhammad SAW hadir sebagai pengingat. Di tengah kerumunan yang marah, di antara konflik yang bergejolak, Rasulullah selalu mencontohkan sabar, hikmah, dan kelembutan.
Kata-kata beliau menenangkan amarah, mengarahkan hati yang gelisah, dan menyalakan cahaya pengertian. Dari keteladanan beliau, kita belajar bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi; sabar, empati, dan akhlak adalah jangkar yang menahan gelombang kemarahan masyarakat.
Fenomena di negeri ini mengingatkan kita: jabatan bukanlah pembenaran untuk berkata atau bersikap sembrono. Kata-kata dan tingkah laku yang menyinggung rakyat bisa memantik api kerusuhan. Maaf setelahnya, meski penting, hanya menenangkan permukaan; akhlak yang konsisten, akan menata kedalaman hati publik.
Maulid Nabi Muhammad bukan hanya peringatan kelahiran seorang manusia mulia, tetapi juga cahaya teladan bagi pemimpin, pejabat dan masyarakat. Ia mengajarkan, kekuatan sejati terletak pada ketenangan lisan, kebijaksanaan bertindak, dan kemampuan menebar damai di tengah badai.
Seorang pejabat yang meneladani Rasulullah akan menimbang setiap kata, mengukur setiap sikap, dan memahami bahwa rakyat bukan hanya pendengar, tetapi penentu kepercayaan yang harus dijaga.
Ketika jalanan riuh oleh aksi protes, ketika kata-kata yang tak terukur mengoyak persatuan, kita harus menengok cahaya Maulid. Di situlah ditemukan teladan: bahwa kekuatan kata dapat menjadi jembatan, lidah yang bijak menumbuhkan pengertian, dan akhlak yang luhur menebar perdamaian. Gelombang kemarahan bisa mereda bila kata dan tindakan berpijak pada empati dan hikmah.
Maulid bukan hanya tentang perayaan; ia adalah pengingat bagi pejabat dan masyarakat bahwa kedamaian lahir dari sabar, akhlak, dan kata yang tertata.
Dari teladan Nabi Muhammad SAW, kita belajar bahwa setiap kata memiliki kekuatan —untuk menenun atau merobek, untuk menyatukan atau memecah. Di tangan pemimpin bijak, kata menjadi cahaya yang menuntun bangsa melewati badai, menuju persatuan, kepercayaan, dan harmoni. (Gin)


