Kebun Binatang Bandung, Sebuah Lakon yang Terlupakan
SEPERTI di kelir panggung wayang, ada sebuah lakon yang hampir terlupakan di jantung Kota Bandung. Arena hijau yang seharusnya dipenuhi kehidupan kini sunyi, seakan semua tokoh menahan napas.
Harimau, sang ksatria gagah, menatap dunia dari balik jeruji dengan mata penuh tanya. Singa, raja yang agung, berdiri diam menanti panggilan takdir. Burung-burung punakawan yang dulu bersiul riang kini berkicau lirih, menebar pesan yang nyaris tak terdengar.
Di sisi lain, anak-anak —penonton lakon masa depan— datang dengan rasa ingin tahu, berharap melihat kisah hidup yang menginspirasi, namun hanya menjumpai beton dan kandang tua.
Setiap jeruji seolah menahan cerita, setiap sudut menunggu dalang bijak yang bisa menggerakkan kembali panggung ini.
Begitulah Kebun Binatang Bandung. Bukan sekadar taman hiburan, tapi lakon hidup. Cermin moral sebuah kota, panggung di mana manusia dan alam bersua. Bila lakon ini merana, berarti kota kehilangan denyut jiwanya.
Sayangnya, dalang di balik panggung ini terlalu lama berdebat soal siapa yang berhak memegang kendali, meninggalkan tokoh-tokoh satwa dalam kebingungan.
Kandang tua, fasilitas usang, dan perhatian yang setengah hati menjadi tirai kelabu yang menutupi cahaya alam. Anak-anak datang, berharap bertemu cerita, tapi yang mereka temui hanyalah beton dan senyum yang terkekang.
Seandainya ada dalang yang bijak —pemerintah dan masyarakat— yang mampu menata kembali lakon ini, satwa-satwa akan kembali menari di atas panggung hidup mereka.
Burung-burung akan menjadi punakawan yang ceria, harimau dan singa menapak gagah sebagai ksatria, gajah-gajah menjaga bumi seperti raksasa bijak. Anak-anak akan menyimak kisah-kisah alam, belajar menghargai kehidupan, dan merasakan harmoni yang dulu dimiliki kota ini.
Kebun Binatang Bandung memiliki potensi menjadi kraton satwa, pusat konservasi, laboratorium hidup, sekaligus taman pendidikan.
Tapi semua itu akan tetap menjadi bayangan, jika konflik pengelolaan dan kelalaian terus membelenggu. Hanya tindakan tegas, perhatian penuh, dan keberanian mengambil keputusan yang tepat dapat menghidupkan kembali lakon ini.
Kebun Binatang Bandung adalah panggung, satwa adalah tokoh, dan anak-anak adalah penonton yang haus pelajaran. Bila panggung ini hancur, seluruh cerita akan hilang; bila tokoh-tokohnya tersiksa, seluruh moral kota pun tercedera.
Saatnya menghadirkan dalang bijak, menata ulang lakon, dan memberi kehidupan baru—agar Kisah Bandung kembali bersinar, riang, dan penuh makna. (Gin)
Keterangan Foto:
Seekor harimau di Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu hewan yang menarik perhatian pengunjung. (Foto: Bambang Prasetyo)


