Insinerator di Kosambi, Ikhtiar Bandung Jaga Wajah Kota Tetap Bersih
BANDUNG INSPIRA – Pagi yang sibuk di Pasar Kosambi seringkali identik dengan hiruk-pikuk pedagang, aroma rempah, sayuran segar, hingga riuh tawar-menawar.
Namun, ada satu sisi yang kerap luput dari perhatian: tumpukan sampah yang menunggu diangkut. Meski sebagian sudah teratasi, masalah sampah tetap menjadi bayang-bayang yang tak bisa dihindari.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, datang langsung meninjau kondisi itu pada Senin (15/9/2025). Dengan langkah pasti, ia memastikan bahwa Kota Bandung tak akan lengah dalam urusan kebersihan.
“Insya Allah pada 2026 akan kami tempatkan mesin insinerator di sini,” ujarnya, sambil menegaskan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Kosambi memang relatif terkendali. Tumpukan yang sempat menimbulkan keluhan kini sudah jauh berkurang. “Warga di sini juga disiplin, tidak ada yang membuang sampah sembarangan,” tutur Erwin dengan nada puas. Namun, di balik lega itu, ia tahu tantangan lebih besar menunggu di titik lain, seperti Cicadas.
Di kawasan itu, persoalan sampah sering kali muncul bukan hanya karena volume yang tinggi, tetapi juga karena kurangnya sanksi bagi pelanggar. “Mulai besok saya sudah perintahkan Satpol PP menjaga 24 jam. Kalau ada yang buang sembarangan, langsung ditangkap, dibawa ke pengadilan, dan disidang. Karena ini sudah ada perdanya,” tegasnya.
Langkah Pemkot Bandung tak berhenti di Kosambi atau Cicadas saja. Perluasan TPS di Cikutra juga disiapkan, lengkap dengan insinerator untuk mengurangi beban pengangkutan harian. Erwin tak ingin Bandung kehilangan wajahnya sebagai kota kreatif hanya karena sampah berserakan.
“Persoalannya bukan sekadar angkut pagi atau siang. Kalau ada sampah berserakan di pinggir jalan, itu merusak estetika kota. Bandung jangan sampai dicap sebagai kota sampah,” katanya.
Lebih jauh, persoalan lain muncul dari kebiasaan warga luar Bandung yang kerap membuang sampah ke dalam kota. Erwin menyebut kasus Cibaduyut sebagai contoh nyata. “Itu sudah saya larang,” ucapnya.
Sementara itu, soal Pasar Caringin yang sempat ramai diperbincangkan, Erwin menegaskan itu bukan ranah Pemkot Bandung. Pasar tersebut dikelola swasta. “Kami sudah menawarkan solusi, tetapi pihak pengelola tidak bersedia,” ujarnya singkat.
Di akhir kunjungannya, Erwin kembali mengingatkan esensi sederhana yang sering dilupakan: menjaga kebersihan adalah soal nurani. “Kebersihan sebagian dari iman. Jangan hanya mencari keuntungan, tapi juga harus punya tanggung jawab. Karena dampaknya bukan hanya ke pemerintah, tapi juga ke warga Bandung sendiri,” pungkasnya. (Tim Berita Inspira)**
Keterangan Foto:
Tumpukan sampah di Pasar Kosambi Kota Bandung. (Foto: Humas Kota Bandung)


