HUT ke-58 KOPRI PMII: Merawat Identitas, Menguatkan Gerakan
BANDUNG INSPIRA – Memperingati Hari Lahir Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) ke-58, KOPRI PC PMII Kota Bandung bekerja sama dengan KPID Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan talkshow bertema ‘Merawat Identitas Menguatkan Gerakan’. Acara digelar pada Minggu (23/11/2025) di Bandung Creative Hub.
Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan memperkuat peran perempuan di bidang pendidikan, politik, budaya, agama, ekonomi, dan media. Menghadirkan beberapa narasumber perempuan dari berbagai sektor Isma Fauziah, S.Hum., M.Pd (Akademisi UIN Bandung), Lolly Suhenti, S.Sos.I., M.H (Komisioner Bawaslu RI), Dr. Almadina Rakhmaiar, S.Psi., M.I.Kom dan Neneng Yanti, S.Ag., M.Hum., Ph.D (Wakil Rektor ISBI Bandung).
Akademisi UIN Bandung, Isma Fauziah dalam pemaparan materinya menyoroti masih adanya ketimpangan gender dalam pendidikan serta rendahnya literasi nasional.
“Indeks kesetaraan gender di bidang pendidikan masih timpang, dan tingkat literasi baca kita belum ideal, perempuan terutama kader Kopri, harus punya budaya membaca dan meneliti yang kuat agar bisa berperan strategis,” ujarnya.
Isma juga mengingatkan bahwa perempuan tidak boleh hanya aktif dalam wacana tanpa aksi nyata. “Anak Kopri itu pintar berwacana, tapi keberanian untuk bergerak harus diperkuat. Penelitian, penulisan jurnal, dan dokumentasi itu penting agar gerakan perempuan punya data dan dampak nyata,” tegasnya
Sementara itu, Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Almadina Rakhmaiar menegaskan bahwa isu perempuan dalam media masih sangat krusial. Ia menyebut banyak konten siaran yang justru merugikan perempuan dan anak. “Banyak konten yang tanpa disadari merusak kognisi, moral, dan persepsi publik termasuk lirik lagu, tayangan televisi, hingga konten digital yang menjadikan perempuan sebagai objek,” ujarnya.
Alma menambahkan bahwa perempuan perlu mengambil posisi strategis dalam media agar bisa mengawal kualitas siaran dan perlindungan anak serta perempuan.
Sesi budaya disampaikan oleh Dr. Neneng Yanti yang membahas bagaimana perempuan selama ini memiliki peran besar dalam pewarisan tradisi namun sering tidak terlihat. Ia menceritakan hasil penelitiannya di berbagai komunitas adat. “Banyak orang tidak tahu bahwa ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu tradisi itu justru diwariskan oleh perempuan,” ujarnya.
Neneng menegaskan bahwa perempuan adalah penjaga keberlanjutan budaya.
“Perempuan itu punya peran merawat tradisi, menjaga alam, dan menjadi agen transformasi. Hanya saja suara mereka sering tidak terdengar dan tidak dituliskan,” tambahnya.
Selain rangkaian diskusi melalui talkshow, acara peringatan Hari Lahir KOPRI ke-58 ini juga diramaikan dengan berbagai penampilan minat dan bakat dari kader PMII Kota Bandung. Seluruh rangkaian acara diharapkan tidak hanya memperkuat solidaritas, tetapi juga menegaskan bahwa penguatan identitas perempuan harus berjalan seiring dengan ruang aktualisasi yang inklusif dan berkelanjutan. (Adelya) **
Foto: Syahra


