Halal & Thayyaib: Tuntutan Syari’ dalam Konsumsi Produk

Oleh: Dr. Ace Somantri M,Ag (Dosen Muhammadiyah Bandung)

INSPIRA,- Dari aktifitas manusia yang tidak lepas dari kegiatan makan dan minum, tua-muda, sehat-sakit, laki-perempuan, anak – dewasa, dan di manapun berada, semua melakukan kegiatan tersebut. Pertanyaanya, apakah yang di makan dan di minum sudah memenuhi kriteria halal dan thayyib? Padahal 14 abad yang lalu sudah dijelaskan syari’atnya, bahwa manusia di perintahkan untuk makan dan minum harus yang halal dan thayyib seperti dalam surat Al Baqarah ayat 168.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Ulama fiqih mempertegas secara aplikatif, yang halal jelas dan yang haram jelas, di antara keduanya mutasabihat. Artinya selama ini, seribu empat ratus tahun lamanya kita kurang memiliki komitmen mempertegas wajibnya memperkuat pengetahuan untuk deteksi makanan dan minuman yang halal dan thaayib secara empirik dan ilmiah.

Saat ini, setelah 14 abad yang lalu negara yang mayoritas muslim dan terbesar di dunia, konsen dan peduli terhadap keterjaminan halal secara syari’ baru beberapa tahun ini di bahas. Sejak tahun 2014 dengan UU JPPH nomor 33 memberikan keterjaminan halal terhadap produk. Pelaksanaannya terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2021 tentang implementasi jaminan produk halal.

Pengetahuan terhadap keterjaminan produk halal suatu tuntutan syari’ yang jelas dan tegas dalam al Qur’an dan As Sunnah, kaidah hukum Islam serta perundang-undangan yang dilegalkan oleh pemerintah.

Jutaan jenis makanan dan minuman instan sudah beredar di masyarakat luas, bukan hanya di Indonesia namun seluruh dunia. Sementara yang menjamin produk halal sangat terbatas, sehingga sangat memungkinkan yang di makan dan di minum lebih banyak status hukum yang tidak jelas (mutasabihat), yang lebih berbahaya dekat dengan haram.

Halal dan haram yang di konsumsi akan mempengaruhi proses pembentukan karakter. Semakin banyak yang dikonsumsi yang haram sangat memungkinkan membentuk karakter tidak baik, dan sebaliknya mengkonsumsi yang halal dan thayyib akan membentuk karakter yang baik.

Kehalalan produk yang dikonsumsi menjadi sangat penting untuk menjadi perhatian setiap umat muslim, karena bagian kewajiban secara individu untuk menjalankannya. Konsekuensi dari status hukum suatu produk secara kelembagaan hak kompetensinya diberikan ke Komisi Fatwa MUI, dalam penetapannya harus mengedepankan narasi kehati-hatian (ihtiyath), beda dengan ekonomi islam mengedepankan narasi kebaikan (mashlahat).

Makanya untuk menjamin kehalalan, kewajiban lembaga penyelenggara jaminan produk halal melakukan sertifikasi halal. Dari hasil sertifikasi kehalalan akan mempermudah konsumen mentelusuri jaminan halal untuk mengkonsumsi produknya.

Narasi halal dan haram di masyarakat kadang tidak menjadi perhatian karena ada sikap keyakinan yang di miliki umat islam atas dasar sangkaan baik, sementara faktanya ada indikasi-indikasi yang mengarah pada keharaman, apalagi narasi thayyib lebih abai. Ketika di sarankan, sering ada pembelaan personal yang tidak berdasar pada hasil uji kehalalan bersifat objektif dan ilmiah.

Kelemahan saat ini, dalam penguatan narasi kehalalan dan keharaman masih hal biasa, sama halnya dalam berbisnis atau berdagang tidak up grade diri, tidak di sadari tiba-tiba ribuan bermunculan ritel masuk ke jantung masyarakat dengan pelayanan prima. Sangat memungkinkan jika pelaku UKM merasa cukup status kehalalan dengan keyakinan saja, tiba-tiba regulasi wajib halal seluruh produk di tegakan dan UKM milik masyarakat tidak boleh beredar dan milik orang lain siap edar, lagi-lagi pelaku UKM gigit jari tidak bisa berbuat banyak.

Segera berbenah, siapkan mental berubah, upgrade mindset untuk melakukan kolaborasi antar sesama UKM membangun kekuatan berjamaah. Bendung dan benteng kekuatan kapitalis-liberalis dan sosialis-komunis dengan berekonomi kekuatan jamaah.

Ciptakan satu sama lain saling melengkapi kekurangan, bergandeng tangan memperbaiki secara bertahap untuk naik kelas usaha.

Hindari kompetisi antar UKM tidak sehat, bersama mewujudkan pelayanan konsumen memuaskan dengan jaminan halal. Syukur bisa memberikan nilai plus thayyib yang teruji. Aamiin

(GIN)