Formaca UIN Bandung Dorong Upaya Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Kampus

BANDUNG INSPIRA,- Sejumlah kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi yang kerap terjadi tengah menjadi sorotan dari berbagai kalangan.

Merespon keadaan ini, Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formaca) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menggelar seminar bertajuk “Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan: Upaya Penyelesaian dan Pencegahannya”.

Seminar ini digelar di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati, Gedebage, Kota Bandung, pada Kamis (3/2/2022).

Ketua Formaca UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ilham Muhammad Nurjaman menuturkan tujuan diadakannya seminar ini sebagai respon dan sikap untuk berpartisipasi dalam penanganan kasus kekerasan seksual di kampus.

“Disamping sejumlah kasus kekerasan seksual di kampus, ini juga menjadi salah satu program Formaca untuk ikut terlibat dalam penanganan kasus kekerasan seksual,” kata Ilham.

Penanganan kasus kekerasan seksual juga dianggap sulit diselesaikan karena ketiadaan lembaga khusus di kampus. Oleh karena itu, Ilham menuturkan, Formaca mendorong kampus untuk membangun lembaga penanganan kasus kekerasan seksual.

“Kami mendorong pihak UIN Bandung untuk membuat suatu lembaga khusus dibentuk untuk penanganan kasus kekerasan seksual,” tuturnya.

Selain ketiadaan lembaga khusus, sejumlah kampus seringkali menutupi kasus atas nama baik. Menurutnya, apa yang dilakukan kampus dalam menjaga nama baik seharusnya menindak tegas pelaku.

“Kampus yang baik adalah yang menindak pelaku bukan untuk melindunginya. Tentang narasi atas nama baik lembaga, bagi Formaca, jika lembaga melindungi pelaku atas nama baik lembaga itu merupakan tindakan sekaligus menjatuhkan nama baik lembaga juga,” kata Ilham.

Tak hanya ekslusif di perguruan tinggi, Ilham juga berharap seminar ini menjadi pemanti dan lembaga pendidikan menjadi ruang aman dari kekerasan seksual.

“Kami juga berharap bisa membebaskan lembaga pendidikan dari tindakan kekerasan seksual,” katanya

Ilham mengatakan, dalam menjalankan rencana ini, Formaca akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki lokus di pembahasan kasus kasus kekerasan seksual.

“Seperti WSC (Women Studies Center, red) contohnya,” kata Ilham.

Agenda seminar ini juga para pemateri memberikan beberapa penekanan khusus terkait penindakan kasus kekerasan seksual.

Mengingat seminar yang dilaksanakan di area perguruan tinggi Islam, Prof. Dr. Musda Mulia secara khusus memberi penekanan dengan sumber ajaran Islam.

“Seharusnya orang yang paham Al Quran itu, tidak melakukan perbuatan buruk termasuk tindak kekerasan seksual,” ucap Founder Muslimah Reformis itu.

Selain itu, Dr Lina Meilinawati., M.Hum mengingatkan bahwa suara korban dalam kasus kekerasan seksual merupakan bukti hukum yang kuat.

“Mau mencari bukti kekerasan seksual? korban adalah buktinya,” ujarnya.

Komisioner Komnas Perempuan 2016-2019, Prof. Nina Nurmalia, MA, PhD juga menyebutkan tiga kasus penting yang perlu dihilangkan dari dunia pendidikan.

“Ada 3 dosa lembaga pendidikan, menurut meneteri pendidikan: intoleransi, bullying, dan kekerasan seksual,” kata Prof. Nina

Acara ini juga ditutup dengan kegiatan penandatanganan petisi dari para peserta, bahwa peserta dan Formaca mendukung penindakan kasus kekerasan seksual. (GIN)