• BERANDA
  • BERITA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HEALTH
    • ENTERTAINMENT
    • OLAHRAGA
    • RISALAH
    • LIFESTYLE
  • PROGRAM
  • LAYANAN
    • TV PLACEMENT
    • EVENT
    • PRODUCTION HOUSE
    • MEDIA LUAR RUANG
    • BRANDING
  • KONTAK
LIVE TV
LIVE TV
  • BERANDA
  • BERITA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HEALTH
    • ENTERTAINMENT
    • OLAHRAGA
    • RISALAH
    • LIFESTYLE
  • PROGRAM
  • LAYANAN
    • TV PLACEMENT
    • EVENT
    • PRODUCTION HOUSE
    • MEDIA LUAR RUANG
    • BRANDING
  • KONTAK
BERITA INSPIRA, Education

Duck Syndrome: Saat Seseorang Terlihat Tenang, Tapi Berjuang di Bawah Permukaan

InspiraTV 11 August 2025 0 Comments

BANDUNG INSPIRA – Di luar, ia tersenyum, aktif berpendapat di kelas, dan selalu hadir dalam berbagai kegiatan kampus. Di media sosial, prestasi akademik, kegiatan organisasi, hingga foto liburan berjejer rapi, menciptakan citra mahasiswa yang serba bisa.

Namun, yang tak terlihat adalah jam-jam panjang begadang, rasa cemas yang tak kunjung reda, dan pikiran yang terus berputar memikirkan target berikutnya.

Fenomena ini dikenal sebagai duck syndrome—metafora seekor bebek yang tampak meluncur anggun di permukaan air, padahal di bawahnya kakinya mengayuh panik agar tetap mengapung.

Istilah ini pertama kali muncul di Stanford University. Namun kini, menurut Anisa Yuliandri, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM, semakin sering ditemukan di kampus-kampus Indonesia.

“Banyak mahasiswa yang berusaha memenuhi ekspektasi tinggi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Mereka mempertahankan IPK, ikut organisasi, magang, lomba, bahkan tetap aktif di media sosial. Takut tertinggal membuat mereka merasa harus ambil semua kesempatan,” katanya seperti dikutip dari laman resmi UGM.

Anisa menjelaskan, menurut Self-Determination Theory, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, rasa mampu, dan keterhubungan.

Duck syndrome sering muncul ketika pilihan hidup lebih didorong oleh tekanan luar ketimbang keinginan pribadi. Hasilnya, keseimbangan mental pun terganggu.

Budaya “selalu terlihat baik-baik saja” memperparah keadaan. Banyak mahasiswa menekan perasaan lelah atau sedih demi mempertahankan citra sempurna.

Sikap perfeksionis ini, ditambah paparan media sosial yang penuh pencapaian orang lain, menciptakan tekanan baru.

“Mereka ingin terlihat kuat dan produktif meskipun sebenarnya sedang kelelahan,” kata Anisa, merujuk pada Impression Management Theory—konsep bahwa seseorang kerap mengatur citra diri agar sesuai dengan harapan publik.

Masalahnya, duck syndrome kerap tak kasat mata. Kalimat seperti “semua orang juga capek” atau “kalau mau sukses memang harus begini” menjadi pembenaran untuk terus memaksakan diri.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi kecemasan kronis, insomnia, burnout, bahkan depresi. Gejala lainnya termasuk menarik diri dari pergaulan dan merasa tidak cukup baik. “Yang dibutuhkan sering kali bukan solusi instan, tapi ruang untuk didengar,” ujarnya.

Anisa menekankan pentingnya mengenali sinyal-sinyal awal. Langkah pertama adalah kejujuran pada diri sendiri—mengakui rasa lelah bukanlah kelemahan.

“It’s okay to not be okay. Kita tidak harus selalu produktif atau terlihat bahagia. Memberi izin pada diri untuk merasa sedih adalah bagian dari pemulihan,” jelasnya.

Selain itu, mengelola ekspektasi menjadi kunci. Tidak semua standar harus diikuti, dan menolak suatu tanggung jawab demi kesehatan mental adalah sah. “Belajar mengatakan ‘tidak’ tanpa rasa bersalah adalah keterampilan penting,” tambahnya.

FEB UGM, melalui CSDU, menyediakan layanan konseling gratis serta Program Peer Support—teman sebaya yang dilatih untuk menjadi pendengar aman dan suportif. Anisa berharap mahasiswa berani memanfaatkannya.

“Kalau hari ini yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan, itu sudah cukup. Bertahan juga bentuk keberanian,” tutupnya. (Tim Berita Inspira)**

TagsDuck SyndromeStanford University
Previous Post
Sayap Indonesia Makin Lebar: 36 Bandara Resmi Berstatus Internasional
Next Post
Kisah Benyamin Iyai, Anak Papua Tengah yang Jadi Mahasiswa Termuda Unpad 2025

Berita Lainnya

Memprihatinkan! Tak ada Kota Layak Raih Adipura Pada 2025
BERITA INSPIRA

Memprihatinkan! Tak ada Kota Layak Raih Adipura Pada 2025

28 February 2026
Pemkot Targetkan 800 Unit Hunian di Proyek Rusunami Sadang Serang
BERITA INSPIRA

Pemkot Targetkan 800 Unit Hunian di Proyek Rusunami Sadang Serang

27 February 2026
Dukung Palestina Seratusan Mahasiswa dan Santri Geruduk Gedung Sate
BERITA INSPIRA

Dukung Palestina Seratusan Mahasiswa dan Santri Geruduk Gedung Sate

27 February 2026
Bantai Madura United,Persib Kokoh di Puncak Klasemen
Uncategorized

Bantai Madura United,Persib Kokoh di Puncak Klasemen

27 February 2026

Leave A Comment Cancel

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Rubrik

  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Risalah
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Lifestyle
logo inspira putih-01

Inspira Insight & Creative Hub adalah perusahaan riset, konten digital, dan produksi program TV yang menyatukan data, kreativitas, dan media untuk menghasilkan tayangan yang relevan dan berdampak.

Rubrik Berita

  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Risalah
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Lifestyle

Support

  • Tentang Inspira
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Business Inquiries
  • Download Compro Inspira
  • Download Rate Card

Kontak

Ruby Commercial No.68-70 Summarecon, Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat 40295


Tlp/Wa :

0813 2031 5955

0821 1827 7124

Facebook Youtube Instagram Tiktok

Copyright 2025 – INSPIRA INSIGHT & CREATIVE HUB

Welcome Back!
Create Free Account

It's free. No subscription required

or
Lost your password?
By registering, you agree to Streamvid's Terms of Use and Privacy Policy

WhatsApp us