Betulkan Suami Boleh Memukul dan Istri Tak Boleh Melaporkannya?

RISALAH INSPIRA,- Video ceramah Oki Setiana Dewi tentang sikap istri dipukul suami yang diunggah dalam akun TikTok-nya beberapa waktu lalu menuai banyak kecaman.

Sebab, isi ceramahnya menganggap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai aib yang tidak boleh diceritakan. Sekaligus Oki menilai perempuan sebagai orang yang kerap melebih-lebihkan cerita.

Padahal diketahui, sepanjang 2004-2021, Komnas Perempuan mencatat terdapat 544.452 kasus KDRT. Angka tersebut diperkirakan masih lebih lantaran ada banyak kasus KDRT yang tidak dilaporkan dengan dalih menjaga aib suami.

Sementara itu, anggapan suami memukul istri dalam ceramah ini juga seperti suatu hal yang diwajarkan dan tidak perlu diceritakan. Betulkan suami boleh memukul istrinya? dan istri tidak boleh melaporkannya?

Memukul istri berdasarkan firman Allah, benarkah?

وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا

Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Namun, jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya (QS. An-Nisa’ [4]: 34).

Dalam memaknai ayat ini merujuk kitab Tafsir M. Quraish Shihab, dia menyatakan bahwa dharaba memiliki banyak arti. Memukul tidak selalu dipahami dalam arti menyakiti atau melakukan tindakan keras dan kasar.

Sekali lagi jangan dipahami kata “memukul” dalam arti menyakiti, jangan juga diartikan sebagai suatu perbuatan terpuji. Rasul, Muhammad SAW mengingatkan agar “Jangan memukul wajah dan jangan pula menyakiti.” Di kali lain beliau bersabda, “Tidakkah kalian malu memukul istri kalian seperti memuku keledai?” Malu bukan saja karena memukul, tetapi juga malu karena gagal mendidik dengan nasehat dan cara lain,” tulisnya.

Selain itu, Ahli Tafsir Imam Qurthubi menjelaskan bahwa kata nusyuz bermakna maksiat seorang istri terhadap perintah Allah untuk taat kepada suaminya. Contohnya: menyakiti suami dengan tutur kata yang kasar, memasukkan lelaki lain yang tidak disenangi suami ke rumah, dll.

Menurut Imam Qurthubi, ada tiga solusi yang dapat suami lakukan ketika istri tidak taat kepadanya:

1. Menasehati istri

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa seorang suami dapat menjelaskan kepada istrinya ayat-ayat atau sabda Rasulullah SAW bahwa taat kepada suami adalah perintah Allah. Lalu menjelaskan posisi seorang suami terhadap istrinya. Dan nasehat ini haruslah dengan menggunakan kata-kata yang baik dan tidak menyudutkan.

Nasehat ini juga sebaiknya disampaikan ketika istri dan suami sudah dalam keadaan tenang dan tidak tersulut amarah, sehingga komunikasi akan berjalan dengan baik.

2. Meninggalkan istri di tempat tidur

Meninggalkan mereka yang dimaksud adalah tidak menjima’ atau menggauli istri. Imam Mujahid dan beberapa ahli tafsir lain menafsirkannya dengan menjauhi istri, tidak hanya saat tidur, tapi juga di waktu lainnya.

Sebagian ahli tafsir menafsirkan kata “uhjuruhunna” dengan mengucapkan kata-kata yang “lebih keras” kepada istri, dengan harapan istri akan menyadari kesalahannya.

Imam Qurthubi menjelaskan, jika seorang istri masih mencintai suaminya, maka saat suami meninggalkan istrinya, ia akan merasa kesulitan, dan menyadari kesalahannya. Lalu ia akan kembali kepada ketaatan.

3. Memukul dengan pelan dan tidak melukai istri

Ini adalah langkah terakhir yang dapat dilakukan suami jika langkah pertama dan kedua tidak dihiraukan.

Ahli tafsir Imam Qusyairi mengungkapkan bahwa saat istri tidak mengindahkan nasehat suami, maka suami boleh memukulnya dengan tidak membahayakan, misalnya sampai menyebabkan cedera pada tubuh istri. Semua ulama mazhab sepakat dalam hal ini.

Pernahkah Rasulullah SAW memukul istrinya?

Sayyidah Aisyah ra. berkata:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ خَادِمًا إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Rasulullah sama sekali tidak pernah memukul siapa pun dengan tangannya, baik itu pelayan beliau maupun perempuan, kecuali saat berjihad di jalan Allah (HR. Muslim no. 2328).

Bahkan, Rasulullah SAW melarang para suami untuk memukul istrinya dan menyindir mereka yang melakukannya. Beliau bersabda:

لاَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ، ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِي آخِرِ الْيَوْمِ

Janganlah salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti ia memukul seorang budak, sedangkan di penghujung hari ia pun menggaulinya (HR. Bukhari no. 5204).

Selain itu, ada juga sahabat yang berkonsultasi pada Rasulullah SAW tentang istrinya yang menyakitkan dan kasar. Pada kondisi ini pun Rasulullah SAW melarang memukulnya.

عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ وَافِدَ بَنِى الْمُنْتَفِقِ-أَوْ فِى وَفْدِ بَنِى الْمُنْتَفِقِ-إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لِي امْرَأَةً وَإِنَّ فِي لِسَانِهَا شَيْئًا يَعْنِى الْبَذَاءَ. قَالَ: «فَطَلِّقْهَا إِذًا». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لَهَا صُحْبَةً وَلِي مِنْهَا وَلَدٌ. قَالَ: «فَمُرْهَا-يَقُولُ عِظْهَا-فَإِنْ يَكُ فِيهَا خَيْرٌ فَسَتَفْعَلُ وَلَا تَضْرِبْ ظَعِيْنَتَكَ كَضَرْبِكَ أُمَيَّتَكَ». رواه أبو داود.

Dari Laqith bin Shabrah ra: Saya pernah datang sebagai utusan Bani Muntafiq berkunjung ke Rasulullah. Saat itu saya bertanya: “Wahai Rasul, istri saya lidahnya sangat kasar dan menyakitkan”. “Ya ceraikan saja”, saran Nabi Saw. “Wahai Rasul, saya masih mencintainya dan ia juga memberi saya anak”, jawab saya. “Kalau begitu, nasihatilah dia, kalau dia baik, ia pasti akan berubah, tetapi janganlah memukulnya sebagaimana kamu memukul hamba sahaya”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 142).

Melaporkan suami yang memukul istri

Dalam buku 60 Hadits Hak-Hak Perempuan dalam Islam karya Faqihuddin dijelaskan tentang sebuah hadits yang berisi gambaran bagaimana perempuan harusnya bersikap ketika ada kekerasan yang menimpanya.

عن إِياس بنِ عبدِاللَّه بنِ أَبي ذُباب رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّه ﷺ: لا تَضْربُوا إِمَاءَ اللَّهِ، فَجاءَ عُمَرُ رضي الله عنه إِلى رسولِ اللَّه ﷺ فَقَالَ: ذَئِرْنَ النِّساءُ عَلَى أَزْواجهنَّ، فَرَخَّصَ في ضَرْبهِنَّ، فَأَطاف بِآلِ رسولِ اللَّه ﷺ نِساءٌ كَثِيرٌ يَشْكونَ أَزْواجهُنَّ، فَقَالَ رَسُول اللَّه ﷺ: لَقَدْ أَطَافَ بآلِ بَيْت مُحمَّدٍ نِساءٌ كَثير يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ، لَيْسَ أُولئك بخيارِكُمْ

“Dari Iyas bin Abdillah bin Abdi Dzubab, Rasulullah SAW memberi perintah: janganlah memukul perempuan. Tetapi datanglah Umar kepada Rasulullah SAW melaporkan bahwa banyak perempuan yang membangkang terhadap suami-suami mereka,”.

Maka Nabi SAW memberi keringanan dengan membolehkan pukulan itu. Kemudian (akibat dari keringanan itu) banyak perempuan yang datang mengitari keluarga Rasulullah SAW untuk mengeluhkan suami-suami mereka. Maka Rasulullah SAW kembali menegaskan: ‘Telah datang mengitari keluarga Muhammad, banyak perempuan mengadukan (praktik pemukulan) para suami, mereka itu bukan orang-orang yang baik di antara kamu.”

Berdasarkan hadits ini dijelaskan bahwa baik laki-laki ataupun perempuan dapat memetik hikmah dan pelajaran dari apa yang ditetapkan Nabi. Menurut Faqihuddin, perempuan berhak untuk terbebas dari segala jenis kekerasan. Perempuan juga berhak mendapatkan perlindungan.

(GIN)