Bahaya Rokok Bagi Ekonomi, Kesehatan, dan Sosial

Rokok adalah kertas silinder berukuran panjang yang berisi daun-daun tembakau kering yang telah dicacah. Rokok tersebut dapat menimbulkan kecanduan, salah satu zat adiktif yang dapat menyebabkan kecanduan adalah nikotin.

Persentase Merokok Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun Menurut Provinsi (Sumber : BPS).

Dari hasil Susenas tahun 2021, dapat dilihat bahwa penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang mengkonsumsi rokok sebesar 28,96. Data ini terus meningkat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Padahal rokok ini memiliki banyak efek berbahaya baik itu bagi kesehatan, perekonomian, ataupun bagi lingkungan sosial.

Efek Rokok Pada Ekonomi

Mulai tahun 2003, Badan Pusat Statistik (BPS) secara rutin mengeluarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) modul konsumsi setiap tahunnya. Data ini digunakan untuk menghitung Garis Kemiskinan (GK) yang ada di Indonesia. Garis Kemiskinan ini terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKMN).

Ilustrasi pemulung yang sedang merokok.

Garis Kemiskinan Makanan (GMK) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan didalamnya termasuk beras, daging, telur, rokok, dan lain sebagainya. Disini rokok selalu menjadi pengeluaran konsumsi terbesar kedua setelah beras baik di pedesaan maupun perkotaan. Jadi dapat dikatakan bahwa orang yang dikategorikan miskin memang banyak mengkonsumsi rokok, yang menjadi dampak kemiskinan pada orang tersebut.

Selain menyebabkan gangguan kerugian ekonomi individu atau rumah tangga, konsumsi rokok juga menyebabkan kerugian ekonomi di tingkat masyarakat. Pemerintah harus mengeluarkan biaya pengobatan penyakit terkait rokok setiap tahunnya dengan total sebesar 2,11 Triliun rupiah. Yang terdiri dari pengeluaran rawat inap (1,85 Triliun rupiah) dan rawat jalan sebesar (0,26 Triliun rupiah).

Efek Rokok Pada Kesehatan

Ilustrasi paru-paru rusak akibat rokok

Yang kita semua ketahui, bahwa rokok sangat berdampak pada kesehatan. Organ yang paling pertama rusak karena rokok adalah paru-paru. Karena asap rokok yang terhirup dan masuk kedalam paru-paru tersebut dapat menyebabkan bronchitis dan pneumonia.

Merokok juga dapat mengakibatkan impotensi. Sebab kandungan kimia beracun yang ada di dalam rokok bisa mengurangi produksi sperma para pria. Bukan hanya itu saja, bahaya merokok bagi kesehatan juga bisa mengakibatkan terjadinya kanker di bagian tesis. Sedangkan bagi para wanita yang merokok, efek dari rokok dapat mengurangi tingkat kesuburan pada wanita tersebut.

Para perokok pun bisa terkena serangan stroke, apalagi bagi para perokok aktif. Hal ini dikarenakan melemahnya pembuluh darah pada perokok tersebut, karena rokok memiliki kandungan kimia berbahaya seperti nikotin, karbon monoksida dan gas oksidan yang menjadi penyebab datangnya stroke. 

Pada tahun 2017, berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan, tercatat lebih dari 200.000 kematian di Indonesia yang berkaitan dengan rokok.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono mengatakan secara umum, faktor penyebab kematian di Indonesia adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi 28%, merokok 17,3%, diet tidak sehat 16,4%, gula darah tinggi 15,2%, obesitas 5,9%, dan kurang aktivitas 1,4%.

“Merokok menyebabkan risiko kematian nomor 2, sehingga banyak penyakit tidak menular yang berhubungan erat dengan merokok seperti kanker, penyakit jantung, penyakit pernafasan, penyakit paru kronis, stroke, dan penyakit pembuluh darah serta penyakit yang berhubungan dengan kanker lainnya,” ujar Dante.

Efek Rokok Pada Sosial

Efek rokok pada ekonomi yang sudah dibahas sebelumnya berkaitan juga dengan efeknya terhadap kehidupan sosial. Mantan Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek mengatakan banyak anak di Indonesia yang putus sekolah dan kekurangan gizi, dikarenakan pengeluaran untuk membeli rokok lebih banyak ketimbang untuk pembelian bahan pokok makanan.

“Tidak sedikit anak-anak putus sekolah karena tidak ada biaya. Dan tidak terhitung lagi berapa banyak anak yang kekurangan gizi karena pengeluaran rumah tangga lebih banyak untuk membeli rokok,” ujar Nila Moeloek.

Ilustrasi anak remaja sedang merokok

Selain itu, bergaul dengan lingkungan yang notabenenya perokok akan membuat kita menjadi perokok juga. Seperti halnya para social smoker atau perokok sosial yang merupakan orang-orang yang hanya merokok ketika sedang bersosialisasi dengan lingkungannya. Hal itu terjadi karena ia memasuki lingkungan atau bersosialisasi dengan para perokok. 

Perokok sosial ini membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menghabiskan satu bungkus rokok. Namun dalam seiringnya waktu, bisa saja perokok sosial ini menjadi perokok aktif untuk seterusnya apabila terus berada di lingkungan tersebut.

(Penulis,

Syfa Putri Amalia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *