BANDUNG INSPIRA – Dalam Festival Dulag Se-Jawa Barat yang berlangsung di Gedung Negara Pakuan, Minggu (30/03/2025), Dedi Mulyadi menyampaikan pandangannya terkait berbagai isu sosial yang masih terjadi di masyarakat. Di hadapan peserta dan tamu undangan, termasuk beberapa pejabat kota/kabupaten, ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir untuk membangun bangsa yang lebih kuat dan mandiri.
Salah satu sorotan yang disampaikan adalah fenomena menurunnya budaya silih anteuran atau tradisi saling memberi dalam masyarakat. Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa pada masa lalu, masyarakat hidup dalam kebersamaan tanpa ada yang merasa miskin, karena adanya budaya saling berbagi dan mengantar makanan. Namun, saat ini, fenomena tersebut mulai luntur.
Ia juga menyoroti munculnya mentalitas peminta-minta yang semakin meluas. Menurutnya, ada sebagian masyarakat yang berpura-pura lapar, sakit, atau cacat demi mendapatkan bantuan. Jika tidak segera diatasi, mentalitas ini akan terus diwariskan ke generasi berikutnya.
“Pura-pura lapar, sakit, cacat maka muncul mentalitas peminta-minta. Di perempatan, sudut kota, keliling kampung, mentalitas itu masih ada. Jika tidak segera dibenahi dan menular ke anaknya. Bapaknya pemalas, anaknya juga pemalas. Bapaknya pengemis, anaknya pengemis, mentalitas ini harus segera dibenahi,” tegas Dedi.
Selain itu, ia menyinggung fenomena lain yang disebutnya sebagai mentalitas premanisme, yakni seseorang meminta dengan cara menakut-nakuti. Ia mengkhawatirkan bahwa semakin banyak orang yang lebih memilih mengandalkan cara instan ini dibandingkan bekerja keras.
“Mentalitas menakut-nakuti, meminta dengan menakut-nakuti, premanisme. Orang malas bekerja. Daripada digawe (bekerja) macul, ngaduk, ngarit, tukang kayu, tukang pikul, sopir, kenek, lebih baik berkumpul, berkerumun datangin orang, gocap dapat. Kalau lingkaran ini semakin besar maka makin banyak orang yang ikut, maka nanti orang yang produktif semakin menurun,” lanjutnya.
Dedi menegaskan bahwa mentalitas seperti ini harus segera diubah agar masyarakat Jawa Barat dapat berkembang dan menjadi lebih mandiri. Ia juga mengajak semua pihak bersama-sama membangun budaya kerja keras dan gotong royong, sebagaimana yang diajarkan dalam nilai-nilai budaya Sunda.

Ia juga menjelaskan adanya perubahan pola kerja di OPD Jawa Barat dengan pendekatan yang berbeda di era kepemimpinannya.
“Orang sunda itu kepemimpinannya hade gogog hade tagog, murah congcot murah bacot, nya gogog nya mantog, nya ngomong harus mengeksekusi. Jadi hari ini Jawa Barat mungkin banyak eksekusi-eksekusi yang dilakukan dengan cepat,” ujarnya.
Setelahnya, Dedi Mulyadi terlihat memanggil seorang anak laki-laki untuk naik ke panggung. Ia memberikan uang tabungan dan mengajarkan pentingnya menabung untuk masa depan. Dengan semangat kebersamaan yang ditunjukkan dalam festival ini, diharapkan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur dapat terus dipertahankan dan membentuk karakter masyarakat yang lebih kuat dan bermartabat. (Rifqi/Deyvanes)**