Pemkot Bandung Dorong Link and Match, Job Fair Bakal Digelar Bulanan dengan Sistem Hybrid
BANDUNG INSPIRA – Tingginya angka pengangguran di kawasan Bandung Timur mendorong Pemerintah Kota Bandung memperkuat peran sebagai jembatan antara pencari kerja dan dunia usaha. Salah satunya dengan meningkatkan frekuensi job fair menjadi bulanan dan mengintegrasikannya ke platform digital.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, pemerintah tidak boleh hanya jadi regulator. Fungsi intermediasi untuk menciptakan link and match antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja harus dijalankan aktif.
“Pemerintah memiliki fungsi untuk memastikan terjadinya link and match antara pencari kerja dan penyedia kerja. Setiap peluang yang dibuat oleh pengusaha harus dibukakan pintu dan jendelanya oleh pemerintah kota,” ujar Farhan usai membuka Pameran Bursa Kerja di Teras Sunda Cibiru, Jalan Raya Cipadung, Sabtu (25/4/2026).
Langkah percepatan ini diambil karena tingkat pengangguran di Bandung Timur masih di atas rata-rata kota. Data Layanan Cipta Informasi RW (Laci RW) mencatat angka pengangguran di wilayah itu mencapai 8-9 persen, sementara rata-rata Kota Bandung berada di 7, 2-7,4 persen.
“Ini menjadi perhatian khusus pemerintah untuk meningkatkan intervensi melalui penyediaan informasi dan peluang kerja,” kata Farhan.
Untuk itu, Pemkot tak lagi menggelar job fair tiga bulanan dan frekuensinya akan ditingkatkan menjadi bulanan agar akses pencari kerja ke lowongan lebih cepat dan merata.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung, Yayan A. Berliana, menyebut job fair kali ini diikuti 18 perusahaan dengan total sekitar 3.000 lowongan pekerjaan. Agar jangkauan lebih luas, Disnaker juga menggandeng platform digital. Portal Kementerian Ketenagakerjaan membuka 600 lowongan, sementara JobSeeker menyediakan 1.200 peluang kerja nasional hingga internasional.
“Pendekatannya sekarang kita integrasikan dengan platform online, sehingga pilihan lowongan semakin luas dan tidak terbatas pada perusahaan yang hadir secara langsung,” jelas Yayan.
Kedepan, pengelolaan job fair akan mengadopsi konsep hybrid. Proses rekrutmen mulai dari pengiriman lamaran, seleksi administrasi, hingga wawancara akan banyak dilakukan daring. Tujuannya untuk efisiensi anggaran, energi, dan mempermudah pencari kerja yang tidak bisa hadir langsung.
Dari total lowongan yang tersedia, Disnaker menargetkan lebih dari 50% dapat terserap. Hingga hari pelaksanaan, tercatat sekitar 1.300 pencari kerja sudah mendaftar, dengan ratusan di antaranya datang langsung ke Teras Sunda Cibiru.
“Dari sekitar 3.000 lowongan yang tersedia, Disnaker menargetkan lebih dari setengahnya dapat terserap,” tandas Yayan.
Dengan frekuensi bulanan dan sistem hybrid, Pemkot Bandung berharap penyerapan tenaga kerja lebih cepat, terutama di wilayah dengan tingkat pengangguran tinggi seperti Bandung Timur. Langkah ini juga jadi bagian dari strategi menekan angka pengangguran Kota Bandung di bawah 7% pada akhir 2026. (Bambang)**
Foto: Bambang/Inspira


