Harga Minyakita Melambung, Pemkot Bandung Lakukan Sidak Ke Pasar Sederhana
BANDUNG INSPIRA – Wali Kota Bandung,Muhammad Farhan bersama Forkopimda, Dandim, dan Satgas Pangan Polrestabes turun langsung ke Pasar Sederhana untuk menelusuri penyebab lonjakan harga Minyakita yang tiba-tiba naik di pasaran.
Hasil sidak mengungkap, kenaikan harga dipicu oleh sistem distribusi Minyakita yang terbagi dua. Kementerian Perdagangan hanya memberikan jatah 30% distribusi Minyakita kepada Bulog. Sementara 70% sisanya disalurkan melalui mekanisme pasar bebas.
Untuk 30% pasokan yang dikelola Bulog, harga Minyakita di tingkat konsumen dipastikan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yaitu Rp15.700 per liter. Harga ini berlaku khusus di ritel yang menjadi mitra resmi Bulog.
“Barang tersebut sudah bisa diterima oleh para mitra ritel Bulog di pasar-pasar dengan harga tertinggi Rp15.700 per liter. Tadi saya juga melihat posternya sudah terpampang, dan sepertinya bukan baru dipasang semalam,” kata Farhan, saat sidak.
Ciri ritel mitra Bulog mudah dikenali dari poster di depan toko bertuliskan HET Bulog Rp15.700 per liter. Dari sisi pasokan, Bulog menyebut kondisi normal. Setiap kios mitra Bulog rata-rata menerima 50 karton per minggu, dengan total sekitar 4.500 dus per minggu untuk seluruh pasar. Kuota ini tidak dibatasi selama pedagang mampu membayar purchase order (PO) secara tunai.
Saat ditanya alasan tidak bergabung menjadi mitra Bulog, pedagang eceran menyebut dua kendala utama.
Pertama, masalah administrasi. Pemkot berjanji menindaklanjuti dengan menurunkan petugas agar proses pendaftaran dipermudah.
Kedua, kewajiban pembayaran PO secara tunai. Syarat ini dinilai memberatkan pedagang kecil. Akibatnya, banyak pedagang memilih mengambil pasokan dari distributor bebas meski harga jual di atas HET.
“Melalui distributor bebas dalam mekanisme pasar, mereka tetap bisa mendapatkan pasokan meskipun harga di atas HET. Akhirnya, sebagian pedagang memilih jalur tersebut,” jelasnya.
Dengan porsi 70% pasokan Minyakita bergantung pada mekanisme pasar, disrupsi di jalur distribusi bebas langsung berdampak pada harga. Saat ini, harga Minyakita di luar ritel mitra Bulog mencapai Rp19.000 hingga Rp21.000 per liter, tergantung distributor.
“Ketika 70% pasokan Minyakita melalui mekanisme pasar mengalami disrupsi, maka 30% dari Bulog tentu memiliki keterbatasan dalam melakukan stabilisasi harga,” ujar dia.
Ia menyebut kondisi ini sebagai gambaran nyata interaksi sistem campuran: 30% diatur Kementerian Perdagangan bersama Bulog, 70% mengikuti pasar. Total kebutuhan Minyakita per minggu di pasar mencapai sekitar 13.500 dus, dengan 9.000 dus dipasok distributor pasar bebas.
Bersama Dandim dan Satgas Pangan Polrestabes, Pemkot memastikan tidak ada praktik penimbunan. Operasi intelijen terus dilakukan untuk memantau kelancaran distribusi dari pabrik ke distributor. Jika ditemukan indikasi penimbunan, aparat akan langsung menindak dengan dukungan Kodim.
Sementara itu, stok dan harga beras terpantau aman. Baik di ritel Bulog maupun non-Bulog, harga relatif sama, berkisar Rp62.500 per 5 kg hingga Rp100.000 per 50 kg di pasar tradisional maupun ritel modern.
Pemkot mengimbau warga yang ingin membeli Minyakita sesuai HET agar mendatangi ritel mitra Bulog yang memasang poster harga Rp15.700 per liter.(Bambang)**
Foto:Bambang/Inspira


