80 Tahun Bandung Lautan Api: Mengingat Sejarah, Membangun Masa Depan
BANDUNG INSPIRA – Tragedi Bandung Lautan Api merupakan salah satu peristiwa heroik dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang terjadi pada 23-24 Maret 1946 di Kota Bandung, Jawa Barat. Saat itu, rakyat dan pejuang setempat memilih untuk membumihanguskan kotanya sendiri agar tidak jatuh ke tangan penjajah Sekutu dan tentara NICA (Belanda).
Keputusan besar itu menjadi simbol semangat juang dan pengorbanan tanpa pamrih demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan. Hingga akhirnya setiap tanggal 24 Maret menjadi hari peringatan Bandung Lautan Api.

Tahun ini, peringatan ini menjadi lebih spesial karena merupakan peringatan ke-80 tahun Bandung Lautan Api. Masyarakat diharapkan dapat mengenang kembali semangat perjuangan dan pengorbanan rakyat Bandung dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Untuk itu, Walikota Bandung, Muhammad Farhan mengajak generasi muda meneladani semangat pengorbanan rakyat Bandung dalam peristiwa Bandung Lautan Api yang diperingati setiap 24 Maret. Menurutnya, peristiwa bersejarah itu bukan sekadar simbol perjuangan, melainkan bukti nyata bahwa persatuan bangsa lahir dari keberanian warga yang rela berkorban demi keutuhan Republik Indonesia.

“Semangat Bandung Lautan Api adalah semangat di mana seluruh warga Bandung waktu itu menyatakan siap berkorban untuk tegaknya konsep kebangsaan negara kesatuan Republik Indonesia,” kata Farhan, Senin (30/3/2026).
Dia menekankan bahwa pengorbanan luar biasa yang dilakukan rakyat Bandung tercatat sebagai salah satu peristiwa penting yang mempengaruhi hasil perundingan di PBB. Tanpa peristiwa itu, Bandung berpotensi terbelah menjadi dua, sebagian dikuasai kolonial Belanda dan sebagian milik Republik. Namun, berkat keberanian rakyat, Bandung akhirnya sepenuhnya menjadi bagian dari Indonesia.
“Generasi muda harus menghargai dan menghormati pengorbanan seluruh rakyat Bandung. Dari semangat itu, kita belajar bahwa persatuan bangsa tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari pengorbanan,” ucapnya.
Farhan berharap generasi muda dapat menerjemahkan semangat Bandung Lautan Api ke dalam tindakan nyata di masa kini, seperti menjaga persatuan, melawan disinformasi, dan berkontribusi membangun bangsa.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bandung, Andri Darusman menyampaikan pentingnya generasi muda khususnya generasi Z, untuk terus mengenang peristiwa heroik Bandung Lautan Api yang terjadi pada 24 Maret 1946. Peristiwa tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan semangat perjuangan yang harus diwariskan agar tidak hilang ditelan zaman.

“Pengorbanan para pejuang seperti A.H. Nasution dan Mohammad Toha harus menjadi motivasi bagi anak muda untuk melanjutkan semangat perjuangan dalam kehidupan modern, baik di bidang pendidikan, karier, maupun organisasi masyarakat,” papar Andri Darusman.
Kesbangpol Kota Bandung setiap tahun menggelar berbagai kegiatan memperingati Bandung Lautan Api, mulai dari upacara resmi, lomba bertema sejarah, hingga pertunjukan teatrikal yang menggambarkan suasana perjuangan rakyat Bandung saat membakar kota demi menolak pendudukan sekutu.

Andri menilai tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan masa lalu. Distraksi dari teknologi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri. Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi sarana efektif menyebarkan nilai-nilai perjuangan.
Pemkot Bandung turut menjaga situs bersejarah seperti Tugu Bandung Lautan Api di Tegalega. Situs tersebut tidak hanya menjadi simbol perjuangan, tetapi juga ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan ekonomi, olahraga, dan kebudayaan.
“Dengan berbagai upaya tersebut, kami berharap generasi muda tidak hanya mengenang Bandung Lautan Api sebagai sejarah, tetapi juga menjadikannya inspirasi berkarya dan berkontribusi bagi masa depan Kota Bandung,” tandasnya.
Andri juga mengaitkan semangat Bandung Lautan Api dengan visi Kota Bandung, yakni Bandung Utama yang unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis. Menurutnya, generasi muda yang memahami sejarah akan lebih siap menjaga kondusivitas kota sebagai modal dasar pembangunan.
“Kondusifitas kota harus terjaga agar Bandung tetap menjadi pusat pemerintahan, budaya, dan pariwisata,” tegasnya.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dan Warga Bandung, dibuatlaj monumen Bandung Lautan Api (BLA) di Lapangan Tegallega. Selain itu, Kota Bandung juga memiliki 10 bukti atau stilasi yang tersebar di 10 titik. Stilasi-stilasi tersebut di antaranya penanda tempat pertama kalinya pembacaan teks proklamasi oleh rakyat Bandung, lokasi persitiwa perobekan bendera Belanda maupun markas para pejuang Bandung Lautan Api.
Berikut 10 stilasi Bandung Lautan Api:
1. Jalan Ir H. Juanda – Sultan Agung.
Stilasi berada di depan gedung bekas kantor berita Jepang, Domei yang sudah ada sejak tahun 1937. Menurut catatan sejarah, di kantor berita inilah untuk pertama kalinya teks proklamasi dibaca oleh rakyat Bandung. Kali ini bangunan tersebut sebagai Kantor Bank BTPN.
2. Jalan Braga
Stilasi 2 tepatnya berada persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan terletak gedung Bank Jabar yang dahulu bernama Gedung Denis. Di gedung ini, pada Oktober 1945, pejuang Bandung Moeljono dan E. Karmas merobek bendera Belanda.

3. Jalan Asia-Afrika
Stilasi 3 berada di depan Gedung Asuransi Jiwasraya di Jalan Asia-Afrika atau di seberang Masjid Raya Jawa Barat. Dulunya, gedung ini digunakan sebagai markas resimen 8 yang dibangun pada tahun 1922.
4. Jalan Simpang
Stilasi 4 berada di sebuah rumah yang terletak di Jalan Simpang. Di tempat inilah dilakukan perumusan serta diambilnya keputusan pembumihangusan kota Bandung. Perintah untuk meninggalkan kota Bandung pun dikomandoi dari rumah ini. Rumah tersebut kini dijadikan tempat tinggal dan masih dalam bentuk aslinya.

5. SD Dewi Sartika
Stilasi 5 tidak berada jauh dari Jalan Oto Iskandardinata – Jalan Kautamaan Istri. Tepatnya di depan SD Dewi Sartika.
6. Jalan Ciguriang
Stilasi 6 letaknya pas di Jalan Ciguriang sebelah pusat perbelanjaan Yogya Kepatihan. Stilasi 6 terletak dalam sebuah rumah yang juga markas komando Divisi III Siliwangi pimpinan kol. A.H. Nasution.
7. Persimpangan Lengkong Tengah – Lengkong Dalam
Stilasi ini berada di persimpangan Jalan Lengkong Tengah dan Jalan Lengkong Dalam tepatnya belakang kampus Unpas. Tempat ini merupakan tempat bermukim masyarakat Indo – Belanda.
8. Jalan Jembatan Baru
Stilasi ke 8 berada di Jalan Jembatan baru yang merupakan salah satu garis pertahanan pejuang saat terjadi pertempuran Lengkong.

9. Jalan Asmi
Stilasi 9 berada di SD ASMI, tepat Jalan Asmi. Bangunan utama gedung tidak banyak mengalami perubahan. Tempat ini digunakan sebagai markas pemuda pejuang, PESINDO dan BBRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api.
10. Gereja Gloria
Stilasi 10 berada di depan sebuah gereja yang terletak di jalan ini. Gereja yang bernama Gloria, dulunya merupakan gedung pemancar NIROM yang digunakan untuk menyebarluaskan proklamsi kemerdekaan ke seluruh Indonesia dan dunia.
Di seberang stilasi inilah, di Taman Tegallega, sebuah tugu kokoh bernama tugu Bandung Lautan Api berdiri. (adv/Tim Berita Inspira)**
Foto: Tim Berita Inspira/Istimewa


