China merupakan salah satu peradaban dengan populasi terbesar di dunia. Pada tahun 2025, jumlah penduduk China diperkirakan mencapai sekitar 1,416 miliar jiwa, berdasarkan proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dihimpun oleh Worldometer. Besarnya populasi ini menjadi salah satu faktor penting yang mendorong terjadinya migrasi besar-besaran keluar dari wilayah Tiongkok selama berabad-abad.
Di luar daratan China, jumlah orang keturunan Tionghoa yang tinggal di berbagai belahan dunia diperkirakan mencapai sekitar 50 hingga 60 juta jiwa. Data tahun 2022 menunjukkan angka sekitar 49,7 juta diaspora Tionghoa global, dengan konsentrasi terbesar berada di Asia Tenggara, disusul kawasan Amerika, Eropa, Oceania, dan Afrika. Persebaran ini menjadikan diaspora Tionghoa sebagai salah satu komunitas migran terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Buku ini mengulas secara mendalam mengapa dan bagaimana orang-orang Tionghoa merantau hingga ke Indonesia, dengan pendekatan sejarah, sosial, dan ekonomi. Faktor push seperti kemiskinan, perang, kelaparan, dan ketidakstabilan politik di Tiongkok menjadi dorongan utama migrasi. Sementara itu, faktor pull muncul dari kebijakan kolonial Belanda (VOC) yang mendatangkan buruh dan pedagang Tionghoa ke Hindia Belanda sebagai penggerak ekonomi kolonial—mulai dari perdagangan, pasar, hingga sistem pajak dan opium.
Secara khusus, buku ini juga menjelaskan asal-usul daerah para perantau Tionghoa dan jalur migrasinya ke Nusantara. Kelompok dari Fujian (Hokkien) banyak menetap di Jawa, Sumatra Selatan, dan Makassar sebagai pedagang. Sementara itu, migran dari Guangdong, termasuk Hakka dan Teochew, tersebar di Bangka, Belitung, Kalimantan Barat, dan Medan, umumnya bekerja di sektor pertambangan dan perkebunan.
Melalui data, peta migrasi, dan narasi sejarah yang mudah dipahami, buku ini membantu pembaca memahami akar sejarah masyarakat Tionghoa Indonesia, peran mereka dalam ekonomi kolonial, serta kontribusinya dalam membentuk wajah Indonesia modern.

