Gerak Tubuh, Teriakan Kemanusiaan: Pantomim Wanggi Hoed untuk Palestina
BANDUNG INSPIRA – Di atas panggung, Wanggi Hoed kerap tampil tanpa kata. Gerak tubuhnya menjadi bahasa, ekspresi wajahnya adalah teriakan, dan diamnya justru lantang. Namun, di balik senyap pantomim yang ia geluti, ada suara yang terus ia gaungkan: suara kemanusiaan.
Beberapa tahun terakhir, Wanggi bukan hanya dikenal sebagai seniman pantomim, tetapi juga aktivis. Ia menggagas gerakan Solidaritas Seni untuk Palestina, sebuah wadah lintas bidang untuk menyuarakan tragedi kemanusiaan global.
“Saya merasa harus ada langkah lebih, cara nyata dan berkelanjutan,” ujarnya kepada INSPIRA beberapa waktu lalu. Dari kegelisahan itu, ia mengajak sejumlah orang bergabung. Bersama musisi, antropolog, hingga pendongeng, mereka merumuskan pola aktivisme baru yang memanfaatkan seni sebagai medium utama.
Menurut Wanggi, seni memiliki daya jangkau berbeda dibandingkan kata-kata. Ia sadar, banyak orang mungkin enggan menonton tayangan mengerikan tentang korban perang —tubuh yang sudah tak lengkap, darah, dan derita.
“Tapi lewat tubuh, lewat gestur, kita bisa membangun ingatan panjang. Gerak bisa membuat orang teringat, bahkan tanpa harus melihat gambar mengerikan,” katanya.
Gerakan jalan kaki menjadi salah satu pilihan aksi yang ia lakukan. Dengan tubuh sebagai pesan, Wanggi melintas di ruang publik, membiarkan masyarakat bertanya: ada apa dengan Palestina? Mengapa seorang seniman berjalan, diam, dengan gestur tubuh yang sarat makna?
“Lewat tubuh, kita bisa menghadirkan ingatan kolektif. Ingatan itu melekat lebih lama daripada sekadar kata,” ujarnya.
Wanggi menegaskan, isu yang ia suarakan bukan lagi semata-mata soal agama atau identitas tertentu, melainkan soal kemanusiaan. “Indonesia harus sadar bahwa ini genosida, ini pembantaian manusia. Kalau kita abai, berarti kita ikut berada di sejarah yang salah,” katanya tegas.
Bagi Wanggi, aktivisme bukan tentang aksesori gerakan atau sekadar tren media sosial. Ia menolak menjadikan aksi kemanusiaan sebagai “hiasan” belaka. Baginya, setiap aksi harus bermakna dan berkelanjutan.
“Yang saya lakukan harus bermanfaat. Tidak sekadar hidup untuk diri sendiri, tetapi memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya. Prinsip ini pula yang membuatnya mampu bertahan. Ia sadar, hidup yang rakus dan hanya mengejar kepentingan pribadi justru membuat seni kehilangan ruhnya.
Perjalanan Wanggi menyuarakan isu Palestina sudah dimulai sejak 2012, meski awalnya sebatas di ranah digital. Baru dalam dua tahun terakhir, ia mengubah pola menjadi lebih nyata: turun ke jalan, mengorganisir, menggabungkan seni dengan aktivisme sosial.
“Lewat aksi Palestina, semakin banyak yang terlibat. Ada solidaritas dari berbagai bidang, bahkan dari organisasi keagamaan, ormas, ulama, semua bisa bersuara bersama. Ini ruang seni yang bisa menyuarakan kebisaan rakyat banyak,” jelasnya.
Wanggi tahu jalannya tidak mudah. Namun, ia percaya seni punya kekuatan untuk menjaga nalar dan nurani. Dari gerakan tubuh yang sunyi, ia ingin meninggalkan jejak: bahwa di tengah hiruk pikuk politik dan informasi, suara kemanusiaan tak boleh padam.
“Kalau kita sudah berada di lokomotif ini, kita akan bertemu banyak ilmu, pengetahuan, dan bisa menyebarkannya. Itulah harmoni—cukup untuk diri sendiri, lalu dibagikan kepada orang banyak,” pungkasnya. (Tim Berita Inspira)
Keterangan Foto:
Seniman pantomim Wanggi Hoed. (Foto: Bambang Prasetyo)


