Anis Rahmatillah: Menembus Batas, Meraih Cumlaude di UGM
BANDUNG INSPIRA – Di balik kursi roda yang menemani hari-harinya, Anis Rahmatillah menyimpan semangat yang tak pernah padam. Gadis muda penyandang tuna daksa ini baru saja menorehkan pencapaian membanggakan.
Dia resmi menyandang gelar Sarjana Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat Cumlaude (IPK 3,53) pada wisuda Sarjana dan Sarjana Terapan, Kamis (28/8/2025), di Grha Sabha Pramana UGM.
Bagi Anis, capaian itu bukan sekadar angka atau toga yang dikenakan di hari kelulusan. Itu adalah buah dari perjalanan panjang penuh tantangan, jatuh bangun, hingga akhirnya berdiri tegak dengan rasa syukur.
Kecintaan Anis pada biologi bermula sejak ia duduk di bangku SMA, ketika bergabung dalam klub olimpiade biologi. Dari sanalah ia menyadari arah hidup yang ingin ditempuh. “Aku memilih prodi Biologi dengan keyakinan penuh,” kenangnya, seperti dikutip dari laman resmi UGM.
Namun, perjalanan perkuliahan tidak selalu mulus. Di semester awal, rasa putus asa sempat menghampiri. “Jujur, tanpa sadar di beberapa semester awal sempat mau menyerah dan pindah jurusan. Tapi melihat dukungan dari semua aspek, baik teman-teman, tendik, maupun asisten praktikum, aku merasa dirangkul lagi,” tutur Anis.
Dukungan itu membuat Anis tetap bisa berkontribusi dalam kegiatan kelompok, praktikum lapangan, maupun di laboratorium, meski dengan keterbatasan fisiknya. Bagi Anis, predikat cumlaude bukan sekadar simbol kecerdasan. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai bentuk komitmen.
“Cumlaude bukan tolak ukur kepintaran, tapi bagaimana aku menghargai usaha orang tua yang sudah berjuang agar aku bisa kuliah,” ujarnya.
Orang tuanya adalah sumber motivasi terbesar, selain tekad dalam dirinya sendiri. Di setiap langkah, Anis berusaha menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah bisa menghalangi mimpi.
Dalam skripsinya yang berjudul “Respons Anatomis dan Analisis Histokimia Batang Tembakau (Nicotiana tabacum L. ‘Manilo’) dengan Penambahan Pupuk Nitrogen pada Cekaman Kekeringan”, Anis meneliti bagaimana tanaman beradaptasi di tengah kondisi kering.
Penelitian ini ia jalani di bawah bimbingan Dr Dra Maryani, M.Sc., dengan pendanaan dari hibah Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa (KDM) yang dipimpin Novita Yustinadiar, S.Si., M.Si.
Tak berhenti di ruang kelas, Anis juga aktif sebagai asisten praktikum pada beberapa mata kuliah, termasuk Biologi Umum, Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, serta Anatomi Tumbuhan.
Ia turut serta dalam Kelompok Studi Arsitektur Taman, menunjukkan bahwa ia mampu menyeimbangkan peran akademis dan aktivitas pengembangan diri.
Ada satu kutipan lagu yang selalu menjadi pegangan Anis. Dari band Inggris The 1975, ia terinspirasi lirik: “If you can’t survive, just try.”
“Kutipan itu yang membuatku terus bergerak maju. Kadang kita terlalu terpaku dengan hasil akhir, survive atau enggak. Padahal yang lebih penting itu adalah fakta bahwa kita terus menjalani hari-hari kita setiap hari,” ucapnya.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, memberikan penghargaan khusus atas capaian Anis. “Usaha dan kerja keras Anis adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan batu loncatan menuju pencapaian. Anis adalah wujud nyata bahwa dengan tekad, dedikasi, dan keyakinan, tidak ada mimpi yang mustahil diraih,” tuturnya.
Wisuda kali ini bukan sekadar perayaan bagi Anis Rahmatillah dan keluarganya. Lebih dari itu, ia meninggalkan jejak inspirasi bagi banyak orang. Bahwa mimpi, seberapapun tingginya, tetap bisa digapai selama ada tekad, kerja keras, dan doa.
Di balik keterbatasan fisik, Anis justru menunjukkan bahwa batas terbesar manusia bukanlah tubuh, melainkan keraguan di dalam diri. (Tim Berita Inspira)
Keterangan Foto:
Meski memiliki keterbatasan fisik sebagai penyandang tuna daksa, Anis Rahmatillah berhasil menorehkan prestasi luar biasa dengan meraih gelar Sarjana Biologi UGM dengan predikat Cumlaude (IPK 3,53). (Foto: ugm.ac.id)


