Kang Opik dan Angklung: Tiga Dekade Menjaga Suara Tradisi di Saung Udjo
BANDUNG INSPIRA – Siapa tak kenal Saung Angklung Udjo? Hampir setiap orang di Indonesia pernah mendengar namanya. Bahkan banyak turis mancanegara yang menjadikannya destinasi wajib saat berkunjung ke Bandung.
Namun, di balik panggung meriah dan suara gema angklung, ada sosok yang selama tiga dekade terakhir menjadi nakhoda. Dialah Taufik Hidayat Udjo, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara sekaligus putra dari pendiri Saung Angklung Udjo, almarhum Udjo Ngalagena.
Sejak tahun 1995, amanah besar itu dititipkan kepadanya. Kini, Taufik bukan hanya menjaga warisan ayahnya, tapi juga membuktikan bahwa angklung bisa terus berbicara, bahkan di tengah badai pandemi Covid-19 yang nyaris membuat Saung Angklung Udjo gulung tikar.
Bagi Kang Opik, sapaan akrab Taufik Hidayat Udjo, mengelola Saung Angklung Udjo adalah sebuah perjuangan. Saat menerima amanah dari ayahnya untuk memimpin Saung Angklung Udjo, Kang Opik berpikir keras bagaimana mempertahankan angklung agar tetap eksis dan bisa dijual.
“Alhamdulillah, diberi amanah oleh bapak dan keluarga untuk memimpin sawung ini dari tahun 1995. Jadi amanahnya adalah sebetulnya bagaimana supaya sawung angklung ini dengan angklungnya tetap hidup dari generasi ke generasi,” kata Kang Opik kepada INSPIRA, beberapa waktu lalu.
Di bawah komando Kang Opik, Saung Angklung Udjo terus berinovasi. Tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional, Kang Opik mengembangkan Saung Angklung Udjo agar tetap digemari, terutama anak-anak muda.
Lewat inovasi-inovasi itulah, angklung makin membumi, hingga mancanegara. Bahkan jawara dunia MotoGP Marc Marquez pernah berkunjung ke Saung Angklung Udjo, dan memainkan alat musik dari bambu itu secara bersama-sama.
“Saya sebetulnya megang bahasanya almarhum, keep the old one, create the new one. Artinya mempertahankan yang lama, yang penuh nilai-nilai, kemudian juga mengembangkan sesuatunya dengan inovasi, kreativitas, bagaimana ramainya zaman sekarang dan bagaimana membuat zaman,” tegas Kang Opik.
Badai pandemi yang melanda Indonesia pada 2020 membawa perubahan yang drastis di Saung Angklung Udjo. Suasana riuh penuh tawa pengunjung, yang biasa terdengar setiap hari, mendadak tergantikan oleh nada-nada miris.
Tempat yang selama puluhan tahun menjadi destinasi wisata berbasis seni dan budaya di Kota Bandung itu, tiba-tiba berada di ujung tantangan besar: terancam tutup.
Pemasukan yang biasanya menopang operasional sehari-hari anjlok drastis karena pembatasan aktivitas masyarakat. Keadaan itu membuat langkah sehari-hari kian terseok-seok.
“Ya, sejujurnya kita memang sangat kerepotan. Lebih dari setengah pegawai kita harus dirumahkan, sisanya digaji kurang dari setengahnya. Gajinya kurang dari setengah, tapi pekerjaannya malah tiga kali lipat,” kata Kang Opik.
Namun, di balik kesulitan itu, ada semangat luar biasa yang membuat Saung Angklung Udjo tetap bertahan. Para pekerja bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi berjuang agar angklung—ikon budaya Indonesia—tetap hidup.
Upaya demi upaya ditempuh. Dari mengajukan bantuan ke kementerian, membuat beberapa film, menyelenggarakan pertunjukan virtual, hingga tampil di tujuh ruang pertunjukan berbeda. Donasi dan bantuan pun datang silih berganti, termasuk dari pihak-pihak yang tak terduga.
Lepas dari badai pandemi Covid-19, ancaman kembali datang ke Saung Angklung Udjo. Larangan Study Tour yang digulirkan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, sempat membuat Kang Opik gusar.
Namun, Kang Opik selalu percaya kebijakan atau regulasi yang disiapkan pemerintah merupakan suatu hal positif. Apalagi, Saung Angklung Udjo penuh nuansa edukatif, sehingga layak dijadikan tempat study tour.
“Pada awal-awalnya ada pengaruhnya, ada ratusan bahkan ribuan orang yang cancel untuk datang. Tapi saya yakin dan saya lihat juga sekarang malah bisa menjadi lebih baik,” kata Kang Opik.
Kang Opik lantas membeberkan alasannya. Menurut dia, rahasianya terletak pada esensi Saung Angklung Udjo. Bagi banyak orang, kunjungan ke Saung Angklung Udjo, bukan sekadar wisata tapi study tour yang sesungguhnya.
Setiap sudut di Saung Angklung Udjo mengajarkan banyak hal —dari filosofi kebersamaan hingga harmoni yang tersirat dalam bunyi angklung.
“Lebih dari itu, ada pelajaran hidup yang dibisikkan lewat setiap getarannya: tentang bagaimana kita bisa bekerja sama, memahami satu sama lain, dan menghargai makna di balik harmoni.
Begitulah Kang Opik, nyaris seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk angklung. Di tangan Kang Opik, Saung Angklung Udjo bukan hanya tempat pertunjukan.
Ia menjadi saksi hidup perjuangan, cinta, dan dedikasi seorang anak yang ingin memastikan setiap bunyi angklung tetap menginspirasi tanpa mengenal zaman. (Tim Berita Inspira) **
Keterangan Foto:
Taufik Hidayat Udjo atau akrab disapa Kang Opik menceritakan kiprahnya mengelola Saung Angklung Udjo.


