Kemenag: Masjid Harus Jadi Rumah Ramah Anak, Bukan Tempat Menakutkan
BANDUNG INSPIRA – Di banyak tempat, masih sering terdengar keluhan: anak-anak tidak boleh berlarian di masjid, takmir marah karena dianggap mengganggu kekhusyukan.
Akibatnya, masjid yang seharusnya jadi tempat penuh kehangatan justru terasa kaku dan menakutkan bagi mereka yang masih kecil.
Kondisi inilah yang disorot Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur.
Ia mengingatkan, masjid sejatinya bukan hanya bangunan untuk shalat, tetapi juga ruang publik yang inklusif, tempat semua kalangan merasa diterima.
“Kenapa anak-anak muda, bahkan anak-anak kecil, dijauhkan dari masjid? Karena ada takmir yang bilang mereka bikin ramai. Akhirnya anak-anak enggan datang, bahkan orang tuanya ikut melarang,” ujar Waryono di Jakarta, Jumat (22/8/2025).
Menurutnya, paradigma seperti itu harus segera diubah. Masjid, kata Waryono, adalah ruang belajar nilai-nilai kebersamaan, kasih sayang, dan keterbukaan.
Rasulullah SAW sendiri pernah menekankan, seluruh bumi ini adalah masjid—artinya, rumah ibadah ini seharusnya mengajarkan keramahan dan kerendahan hati, bukan sebaliknya.
Beberapa masjid kini mulai bergerak ke arah itu. Masjid Sunan Kalijaga misalnya, telah menyediakan kursi roda dan kursi khusus bagi jemaah dengan kebutuhan tertentu.
Konsep masjid ramah anak, ramah difabel, hingga ramah obesitas mulai muncul, memberi harapan baru bahwa masjid bisa kembali pada fungsi universalnya.
Waryono juga menekankan pentingnya merangkul generasi muda. Takmir, menurutnya, perlu berinovasi mengikuti kebutuhan zaman.
“Salah satu caranya dengan menyediakan akses internet di masjid. Daripada anak muda nongkrong di jalan, lebih baik kumpul di masjid,” ujarnya.
Bukan hanya itu, ia menilai regenerasi pengurus masjid juga penting. Jika ingin dekat dengan anak muda, takmirnya pun harus ada yang muda.
Lebih jauh, Kemenag mendorong program inkubasi usaha produktif berbasis masjid. Harapannya, masjid bisa lebih mandiri, tidak sepenuhnya bergantung pada sumbangan jamaah. Dari sana, operasional listrik hingga honorarium marbot dapat ditopang dengan usaha sendiri.
“Melalui inkubasi ini, masjid bisa menjadi pusat pemberdayaan umat, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga ekonomi,” kata Waryono.
Masjid yang ramah, hidup, dan mandiri—itulah gambaran rumah ibadah yang diimpikan Waryono. Sebuah ruang yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi kebersamaan, inovasi, dan pemberdayaan. (Tim Berita Inspira)**
Keterangan Foto:
Ilustrasi. (Pixabay)


