BANDUNG INSPIRA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengumumkan perubahan penting dalam kebijakan pendidikan Indonesia pada Senin (24/02/2025). Dalam pengumumannya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) akan dihapus dan digantikan dengan program baru, yaitu Proyek P7. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan dengan tantangan zaman dan memperbarui kebijakan yang ada dalam Permendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022.
Perubahan dari P5 ke P7 akan mulai ditetapkan pada tahun ajaran baru 2025/2026. Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memastikan program pendidikan di Indonesia mampu mengakomodasi perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat. Dengan adanya perombakan ini, diharapkan Proyek P7 dapat memberikan solusi yang lebih relevan dan efektif dalam menyiapkan generasi masa depan.
Salah satu perbedaan utama antara Proyek P5 dan Proyek P7 adalah fokus pada pengembangan keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman modern. Proyek P5 sebelumnya mengutamakan penguatan karakter siswa dengan pendekatan berbasis proyek yang berfokus pada nilai-nilai Pancasila. Namun, dalam Proyek P7, keterampilan seperti literasi digital, teknologi, serta kewirausahaan akan menjadi bagian integral dalam pembelajaran. Ini diharapkan dapat menambah nilai praktis pada pembelajaran dan lebih relevan dengan perkembangan dunia yang semakin berbasis teknologi.
Secara struktural, Proyek P5 dijalankan sebagai program terpisah dalam kurikulum yang dilaksanakan berbasis tematik. Program ini tidak terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan lebih berfokus pada kegiatan di luar pembelajaran inti. Sementara itu, Proyek P7 akan diterapkan secara lebih holistik dengan mengintegrasikannya dalam seluruh mata pelajaran. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa siswa memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh, serta keterampilan yang dibutuhkan di berbagai bidang studi.
Mendikdasmen juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan Proyek P5 selama ini sering kali tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Banyak sekolah yang seakan berlomba-lomba untuk melaksanakan kegiatan P5 tanpa memahami esensi dan tujuan utama dari program tersebut. Ketidakefektifan itu menjadi salah satu alasan diperlukannya penyesuaian program agar lebih terarah dengan kebutuhan dunia pendidikan sekarang.
Melalui program ini, para siswa diharapkan tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan saja, tetapi juga keterampilan praktis yang akan berguna dalam kehidupan mereka kelak seperti keterampilan digital dan kewirausahaan. Penekanan pada keterampilan ini akan sangat membantu siswa dalam mempersiapkan diri untuk dunia kerja yang semakin bergantung pada inovasi dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi yang pesat.
Keberhasilan program ini tak lepas dari berbagai strategi pendukung yang perlu diperhatikan dengan baik. Pelatihan kepada guru-guru yang akan mengintegrasikan program ini dirasa sangat perlu karena mereka harus menyesuaikan kembali dalam proses pembelajaran. Selain itu, kurikulum yang terintegrasi dengan P7 akan diperkenalkan untuk memastikan kelancaran implementasi di sekolah-sekolah. Pemerintah berharap bahwa kolaborasi antara pihak sekolah, guru, dan masyarakat dapat mendukung keberhasilan Proyek P7 serta meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Dalam rangka memastikan efektivitasnya, pemerintah juga akan melakukan evaluasi dan pemantauan secara berkelanjutan terhadap pelaksanaan Proyek P7. Proyek P7 diharapkan pendidikan di Indonesia akan semakin relevan dan siap menghadapi tantangan global yang terus berkembang. (Deyvanes Nuruwe)**