Rekor Sepanjang Covid-19! Penambahan Kasus Aktif di Bandung Capai 1.178 Orang

BANDUNG, INSPIRA – Pemerintah Kota Bandung menilai tingkat kesadaran masyarakat yang masih kurang terhadap penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus aktif Covid-19 di Kota Bandung beberapa pekan terakhir. Bahkan, pada Selasa (15/2/2022) bertambah 1.148 dan hari ini, Rabu penambahan kasus aktif mencapai 1.178 dari hari sebelumnya.

Terlebih, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengaku penyebaran kasus Covid-19 varian omicron luar biasa tinggi.

“Sebelum terjadi peningkatan kasus, pertambahan sekitar 10 per hari. Sekitar dua pekan lalu, pertambahan per hari mencapai 100. Malahan, hari ini dari kemarin, mencapai 1.148. Penyebaran (Covid-19) varian omicron lebih cepat,” ungkapnya usai menggelar Rapat Terbatas (Ratas) Evaluasi PPKM Level 3 di Ruang Tengah Balai Kota Bandung, Rabu (16/2/2022).

Untuk itu Pemkot Bandung terus berupaya menekan angka penyebaran Covid-19 dan terdapat dua hal penting guna menghadapi penyebaran Covid-19 varian omicron yang masif, yakni percepatan vaksinasi, serta kesadaran akan penerapan protokol kesehatan.

Apalagi, cukup banyak masyarakat yang tak lagi disiplin menggunakan masker karena telah mengikuti vaksinasi.

“Anggapan mereka, menjadi Superman setelah beroleh vaksinasi Covid-19. Padahal, andaikan individu bersangkutan terpapar Covid-19 dengan gejala ringan, tetap saja berisiko menyebarkan ke orang lain. Bagaimana kalau orang lain itu memiliki komorbid? Kan bahaya juga,” kata Yana.

Disamping itu, pengawasan terhadap Prokes pun terus dilakukan, diantaranya Satuan Tugas Penanganan Covid-19 tingkat kota-melalui Satpol PP Kota Bandung, maupun yang tingkat kewilayahan.

Yana menekankan kunci untuk menekan angka penyebaran Covid-19 yakni dengan prokes penggunaan masker.

“Sebetulnya jika kesadaran masyarakat akan prokes yaitu minimal masker itu bisa mencegah. Tapi sekarang banyak yang abai juga,” imbuhnya.

Namun, meski terjadi pertambahan kasus harian dengan jumlah signifikan, Yana menyebutkan, bed occupancy ratio (BOR) isolasi pada rumah sakit-rumah sakit rujukan menunjukkan penurunan. Sebelumnya, BOR mencapai sekitar 50%, kini tengah berada pada 39%.

Untuk itu, melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bandung pihaknya telah menyebarkan surat edaran kepada setiap rumah sakit untuk mengarahkan pasien Covid-19 bergejala ringan melakukan isolasi di tempat terpadu, maupun rumah masing-masing.

“Hanya pasien bergejala berat yang menjalani perawatan di rumah sakit. Kami menyiapkan tempat isolasi untuk warga terkonfirmasi Covid-19 bergejala ringan. Kami pun akan menyiapkan tempat isolasi bagi tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19. Bakal ada pula tempat isolasi yang berbayar,” tutur Yana.

Lebih jauh ia menambahkan, terdapat pasien Covid-19 bergejala ringan yang tidak mau keluar dari rumah sakit. Pasien itu bersedia membayar, asalkan tetap berada di rumah sakit. Sementara itu, angka BOR mempengaruhi level PPKM.

Tak tinggal diam, Yana menegaskan pihaknya berupaya mengurangi angka BOR dengan menambah jumlah tempat tidur isolasi pada rumah sakit-rumah rujukan. Saat ini, tempat tidur isolasi yang ada baru berjumlah sekitar 800. Sementara itu, saat terjadi lonjakan kasus Covid-19 varian delta, jumlah tempat tidur isolasi pada rumah sakit rujukan sempat mencapai 2.300 tempat tidur.

“Kami mengupayakan penambahan tempat tidur isolasi agar angka BOR bisa turun. Menjaga angka BOR rendah juga guna merupakan upaya mencegah kepanikan masyarakat,” tandas Yana. (Tri Widyantie)